Kita Masih Sembunyi

Pusat kota sangat ramai sekali. Orang-orang membawa spanduk, berjalan dan berteriak. Tampak amarah dari wajah mereka. Aku berdiri di pinggir jalan membawa microfon dengan kabel yang panjang sementara Anto membawa kamera di pundaknya. "Apa sudah siap?" kata Anto.
"Sebentar, aku masih gugup" jawabku.
"Cepatlah Indra. Sebentar lagi orang-orang itu akan menghilang "
" baiklah, aku siap"
"Tiga... Dua... Satu... "
"Selamat siang pemirsa. Saat ini saya berada di tengah kota. Seperti yang anda lihat, di belakang saya sudah banyak warga yang melakukan demo. Demo ini ditunjukkan kepada warga yang baru saja melakukan pride parade yang dilaksanakan Selasa lalu. Warga melakukan demo ini sebagai protes kepada pemerintah agar lebih ketat dalam memerangi LGBT."
Setelah semua kalimat yang aku teriakkan di depan kamera, akhirnya ratusan massa bubar. Ini adalah hari Jumat. Pasti mereka pergi ke masjid.
"Kita harus segera ke kantor. Kita segera tayangkan berita ini" kata Anto.
"Andai saja kita bisa siaran langsung"
"Kita ini hidup di kota kecil. Stasiun TV juga masih kecil. Mana bisa siaran langsung" Anto mengemasi barang-barang​lalu menaruhnya di atas motor.
"Kamu ke kantor dulu. Nanti aku nyusul. Aku mau Salat Jumat dulu" kataku.
"Tapi jangan terlambat. Aku tidak mau mengerjakan pekerjaanku sendiri"
"Siap!"
Suasana masjid sangat sesak. Ruangan dalam sudah terisi penuh. Aku kebagian tempat di luar. Orang-orang menaruh koran di lantai sebagai alas mereka beribadah. Beberapa dari mereka bahkan ada yang membawa karpet. Aku tidak pernah melihat suasana seperti ini selain ketika hari raya.
Setelah selesai salat Jumat, aku memutuskan untuk tidak langsung menuju ke kantor. Aku pergi ke sebuah kafe. Tempatnya selalu sepi. Makanan dan minumannya juga itu-itu saja. Standar kafe biasa. Tapi ada sesuatu yang spesial yang membuatku datang ke sini.
Aku duduk di sebuah bangku lalu menyalakan WiFi handphoneku. Seorang pelayan berseragam datang menghampiriku dengan membawa secangkir kopi. Namanya Haris.
"Aku melihatmu di TV tadi" kata Haris.
"Oh ya? Bagaimana menurutmu?"
"Kamu terlihat gugup. Tapi kurasa lebih tampan di TV. Haha..."
"Bukan itu maksudku. Maksudku demonya"
Haris duduk di depanku lalu berkata "Hmm... Aku tidak terlalu memikirkan hal itu."
"Kenapa?" Kuseruput kopiku.
"Kita sudah cukup aman. Tidak ada yang tahu rahasia kita. Terserah mereka mau koar-koar sesuka mereka. Mereka tetap gak tahu keberadaan kita. Kita ini seperti vampir. Secara kasat mata sulit dibedakan dengan manusia biasa."
"Tapi kita bukan vampir. Kita tidak punya​korban."
"Orang-orang menganggap kita adalah mahkluk yang meresahkan."
Haris pergi untuk melayani pengunjung lain. Aku duduk menyeruput kopi yang masih panas. Tak lama kemudian Haris datang membawa minuman dingin lalu duduk kembali di depanku.
"Kamu tidak harus melakukannya" kataku.
"Apa maksudmu?" Haris bertanya.
"Kamu punya ijazah sarjana. Kamu tidak harus bekerja di tempat seperti ini."
"Aku juga mengerti maksud kamu. Tapi tidak semudah itu."
"Aku bisa bantu kamu jika kamu mau. Aku punya tabungan. Kita bisa gunakan untuk usaha."
"Tidak. Terimakasih. Aku tidak butuh bantuan dari kamu. Lagipula aku masih nyaman bekerja di sini. Simpan saja tabunganmu untuk menikah nanti"
"Aku tidak menikah." Kataku. Haris langsung melihat ke arahku.
"Aku tidak mau berpisah denganmu" aku berbisik.
"Kamu masih bisa menikah untuk bisa bersamaku."
"Tidak. Aku tidak mau menyakiti kamu" kuambil tangannya di meja. Dia menatap ke arahku.
Tiba-tiba aku mendengar handphoneku berbunyi. Anto menelfon. Kuangkat lalu kudengar suara Anto tergesa-gesa.
"Ada apa" Tanya Haris.
"Aku harus pergi. Ada bom di kota. Sepertinya teroris" kuambil dompetku lalu kutaruh uang di meja.
"Jaga dirimu. Kurasa mereka berbahaya"
"Maksud kamu teroris?"
"Iya. Tapi menurutku masyarakat lebih takut dengan kamu LGBT"

Komentar

Postingan Populer