Bangunkan Aku dari Insomnia. 01/03

Hari sungguh melelahkan. Sudah saatnya hari pergi lalu digantikan malam. Aku berjalan di trotoar basah oleh hujan yang baru saja berhenti. Aku menutup payung lalu merekatkan tali pengikatnya. Aku mengayunkan payung itu ke trotoar. Memainkannya seperti sebuah tongkat.

Hari sungguh melelahkan. Tadi aku kerja seharian di kantor. Pekerjaan yang sungguh menguras tenaga. Banyak yang harus dikerjakan.

Aku biasa bangun pukul tujuh, karena jam masuk adalah jam delapan. Tapi besok aku harus bangun lebih awal. Rapat memanggilku untuk memasang alarm jam enam. Aku juga harus menyiapkan presentasi buat besok. Aku ingin rencanaku berhasil. Walau aku sangat membenci pekerjaanku.

Di tengah perjalanan aku melihat seorang pengemis bertopi lebar. Pakaiannya kusut penuh debu yang basah terguyur hujan. Di tangannya ia membawa sebuah mangkok putih. Uang receh berkumpul di sana, berharap akan ada lagi uang yang datang menemani mereka.

Ketika aku berjalan mendekat, ia langsung mengangkat mangkok dan memasang muka sedih lalu berkata dengan penuh rengekan.

"Mas, kasihan, Mas. Minta, Mas"

Aku berjalan melewatinya. Aku tidak melihat wajahnya. Aku melirik, melihat kaki kanannya buntung dengan perban putih yang basah dengan air hujan dan obat merah.

Aku tiba di sebuah warung makan. Aku memilih makan di tempat. Pilihanku jatuh pada ayam goreng dan sambal goreng. Es jeruk pasti dapat menghilangkan hausku.


Setelah makan, aku keluar dari warung dan kulihat mendung sudah tiada. Bulan menampakkan dirinya, menemani lampu jalan menerangi malam. Cahaya kuning memantul dari basahnya aspal jalanan. Menciptakan ilusi bagai lautan emas. Aku melihat di seberang jalan pengemis itu mulai merangkak. Menyeret kakinya yang tinggal satu. Ia menggapai tiang lampu jalan di dekatnya. Ia memanjat tiang itu untuk berdiri. Ia berdiri dengan satu kaki, menatapku dengan pandangan marah.

Aku terus berjalan mengabaikan pengemis itu. Malam ini bulan begitu besar. Bulat penuh seperti uang koin yang aku pegang. Itu adalah uang kembalian dari makan tadi.

Aku tiba di rumah kos. Kamarku ada di lantai tiga. Aku berjalan menaiki tangga. Aku dikagetkan dengan wanita tua yang berdiri di tangga. Ia adalah ibu kos. Ia terus menatapku sebelum memberi jalan buat aku naik.

Aku segera memutar kunci dan membuka pintu. Kunyalakan lampu dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Kutaruh tas di atas kasur. Selanjutnya bajuku. Lalu celana. Aku meraih handuk di gantungan. Aku harus mandi.

Baca Selanjutnya

Komentar

Postingan Populer