Mencari Kacamata yang Hilang. 1/3
Anton menggantung dasi dan bajunya di lemari dan mengambil sarung untuk dikenakannya. Ia lalu memanggil istrinya yang sedang menonton TV untuk dibuatkan kopi. Minah, istrinya berjalan ke dapur untuk menyiapkan permintaan suaminya. Di depan TV, Anton duduk dan mengambil remot di meja. Ia mengganti channel TV dari berita selebriti menjadi berita politik, acara TV kesukaannya. Dengan cermat, ia menyimak pembawa acara di televisi.
"Ini kopinya" Minah menaruh kopi di meja depan TV.
Anton mengambil kopi lalu menyeruputnya. Berita berhasil menarik perhatiannya sehingga ia lupa menyingkirkan sendok dari cangkir. Sendok itu mengenai matanya.
"Aduh" begitu katanya.
"Gimana pekerjaanmu hari ini, Pak" tanya Minah.
"Biasa saja, sama seperti biasa. Tidak perlu kau tanya setiap aku pulang"
Anton kembali menyeruput kopi. Lalu ia bertanya kepada istrinya "Bagaimana kabar bapak?"
"Sama seprti biasa. Bapak masih sudah tidur jam segini" jawab Minah.
"Tiap hari kerjaannya tidur mulu. Kan nggak bagus buat kesehatan. Sesekali bapak harus keluar rumah. Cari udahra, cari keringat. Biar tetap sehat"
"Bapak kan sudah sepuh. Wajar dong tidur mulu" kata Minah.
Anton kembali meneruskan kopinya sambil mendengarkan berita. Ia tenggelam dalam berita sehingga tak sadar sudah jam sembilan dan berita sudah berganti menjadi siaran pertandingan sepak bola. Ia tidak suka siaran bola, jadi ia mematikan TV dan pergi ke dapur untuk menaruh cangkir kopi.
"Tumben, kamu tidak makan setelah pulang kantor. Biasanya dua piring habis kamu lahap" kata Minah.
"Tadi aku makan di kantor. Ada temen yang ulang tahun. Tapi sekarang aku mau makan lagi. Rasa kenyangku sudah hilang"
Anton memang orang yang doyan makan. Tapi itu tidak membuatnya menjadi orang gemuk. Tubuhnya kurus hampir tanpa lapisan lemak. Istrinya heran, kemana perginya makanan yang ia makan.
Anton ditinggalkan putra semata wayangnya yang sudah berkeluarga di Jakarta. Sekarang ia tinggal bersama bapak dan istrinya.
Minah sudah menyiapkan makanan di meja dapur. Sewadah nasi, sepanci sayuran, dan sepiring lauk tersaji di balik tudung saji. Kali ini Minah memasak sayur bening. Ia memilih tempe sebagai lauknya. Tidak ada yang spesial kecuali lele goreng yang disajikan hangat. Anton sangat suka lele goreng. Minah baru menggorengnya selagi Anton masih menonton TV.
Anton mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Ia mengambil nasi banyak sekali. Selanjutnya lauk dan sayur. Tak lupa lele kesayangannya.
"Bapak sudah makan?" tanya Anton kepada istrinya.
"Belum. Bapak belum keluar dari kamarnya"
Anton menaruh piring yang penuh dengan makanan itu di meja. Lalu ia mengambil lagi piring baru. Ia mengisi piring itu dengan nasi, sayur. Masih tersisa lele di meja. Ia mengambilnya dan menaruhnya di piring.
Ia berjalan membawa makanan dalam piring. Ia berjalan menuju kamar bapak. Pintu kamar bapak tertutup. Anton memindah piring ke tangan kiri, lalu ia menggunakan tangan kanannya untuk memegang gagang pintu dan memutarnya.
Pintu terbuka, dan bapak tidak ada di dalam. "Bapak kemana?"
"Mungkin bapak ke kamar mandi" Kata Minah.
Anton menaruh piring di meja dapur, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Tidak ada. Bapak tidak di kamar mandi" kata Anton.
Minah mulai takut. Terpancar ketakutan di wajahnya. Jika terjadi apa-apa, pasti ia yang disalahkan. Ia bertanggungjawab mengurus bapak mertuanya di rumah.
"Jangan diam saja di situ. Bantu cari!" gertak Anton.
Minah membantu dengan menelpon pak RT. Sementara Anton naik ke lantai atas, siapa tahu bapak di sana. Walau dia yakin bapak tidak mampu menaiki tangga.
"Ini kopinya" Minah menaruh kopi di meja depan TV.
Anton mengambil kopi lalu menyeruputnya. Berita berhasil menarik perhatiannya sehingga ia lupa menyingkirkan sendok dari cangkir. Sendok itu mengenai matanya.
"Aduh" begitu katanya.
"Gimana pekerjaanmu hari ini, Pak" tanya Minah.
"Biasa saja, sama seperti biasa. Tidak perlu kau tanya setiap aku pulang"
Anton kembali menyeruput kopi. Lalu ia bertanya kepada istrinya "Bagaimana kabar bapak?"
"Sama seprti biasa. Bapak masih sudah tidur jam segini" jawab Minah.
"Tiap hari kerjaannya tidur mulu. Kan nggak bagus buat kesehatan. Sesekali bapak harus keluar rumah. Cari udahra, cari keringat. Biar tetap sehat"
"Bapak kan sudah sepuh. Wajar dong tidur mulu" kata Minah.
Anton kembali meneruskan kopinya sambil mendengarkan berita. Ia tenggelam dalam berita sehingga tak sadar sudah jam sembilan dan berita sudah berganti menjadi siaran pertandingan sepak bola. Ia tidak suka siaran bola, jadi ia mematikan TV dan pergi ke dapur untuk menaruh cangkir kopi.
"Tumben, kamu tidak makan setelah pulang kantor. Biasanya dua piring habis kamu lahap" kata Minah.
"Tadi aku makan di kantor. Ada temen yang ulang tahun. Tapi sekarang aku mau makan lagi. Rasa kenyangku sudah hilang"
Anton memang orang yang doyan makan. Tapi itu tidak membuatnya menjadi orang gemuk. Tubuhnya kurus hampir tanpa lapisan lemak. Istrinya heran, kemana perginya makanan yang ia makan.
Anton ditinggalkan putra semata wayangnya yang sudah berkeluarga di Jakarta. Sekarang ia tinggal bersama bapak dan istrinya.
Minah sudah menyiapkan makanan di meja dapur. Sewadah nasi, sepanci sayuran, dan sepiring lauk tersaji di balik tudung saji. Kali ini Minah memasak sayur bening. Ia memilih tempe sebagai lauknya. Tidak ada yang spesial kecuali lele goreng yang disajikan hangat. Anton sangat suka lele goreng. Minah baru menggorengnya selagi Anton masih menonton TV.
Anton mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Ia mengambil nasi banyak sekali. Selanjutnya lauk dan sayur. Tak lupa lele kesayangannya.
"Bapak sudah makan?" tanya Anton kepada istrinya.
"Belum. Bapak belum keluar dari kamarnya"
Anton menaruh piring yang penuh dengan makanan itu di meja. Lalu ia mengambil lagi piring baru. Ia mengisi piring itu dengan nasi, sayur. Masih tersisa lele di meja. Ia mengambilnya dan menaruhnya di piring.
Ia berjalan membawa makanan dalam piring. Ia berjalan menuju kamar bapak. Pintu kamar bapak tertutup. Anton memindah piring ke tangan kiri, lalu ia menggunakan tangan kanannya untuk memegang gagang pintu dan memutarnya.
Pintu terbuka, dan bapak tidak ada di dalam. "Bapak kemana?"
"Mungkin bapak ke kamar mandi" Kata Minah.
Anton menaruh piring di meja dapur, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Tidak ada. Bapak tidak di kamar mandi" kata Anton.
Minah mulai takut. Terpancar ketakutan di wajahnya. Jika terjadi apa-apa, pasti ia yang disalahkan. Ia bertanggungjawab mengurus bapak mertuanya di rumah.
"Jangan diam saja di situ. Bantu cari!" gertak Anton.
Minah membantu dengan menelpon pak RT. Sementara Anton naik ke lantai atas, siapa tahu bapak di sana. Walau dia yakin bapak tidak mampu menaiki tangga.
Anton menelusuri setiap sudut rumah. Ia tidak menemukan bapak.
"Di atas tidak ada" kata Anton.
"Saya sudah lapor pak RT. Sebentar lagi polisi datang"
Anton keluar rumah. Mungkin bapak ada di luar. Anton menelusuri jalanan malam yang sepi dengan sebuah senter. Tak lama ia kembali ke rumah dengan tangan hampa.
"Apa polisi sudah datang?" Tanya Anton.
"Apa polisi sudah datang?" Tanya Anton.
"Belum. Sebentar lagi pasti datang" kata pak RT yang sedang duduk di ruang tamu.
Anton bersalaman dan menyapa pak RT yang sedang menunggu minuman yang sedang disiapkan Minah di dapur. Pak RT tidak melihat ada asbak di meja.
"Apa kamu tidak keberatan bila saya merokok?" Tanya pak RT.
"Tidak. Silahkan. Akan saya carikan asbak"
Anton ke dapur untuk mencari asbak. Namun ia sadar ia tidak punya asbak. Jadi ia membawa piring kecil dan menaruhnya di meja ruang tamu.
Asap mengepul keluar dari mulut pak RT. Minah menaruh dua cangkir kopi di meja. Tak lama terdengar suara ketukan pintu.

Komentar
Posting Komentar