SEPASANG BURUNG: KISAH KASIH ANAK SMK. BAGIAN : Masih Sama, dengan Mata yang Berbeda
Aku tidak bisa tidur. Pertengkaran di luar mengganggu tidurku. Sudah pukul 12, dan teriakan itu belum juga berhenti. Aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Ibu belum berhasil meredam suara. Kugapit kepalaku dengan bantal. Suaranya memang sudah berkurang. Namun, aku belum bisa tidur. Tak lama, suara bising di luar sudah mulai berhenti. Kulepas bantal dari kepalaku. Aku mencoba memejamkan mata, namun tidurku belum juga berhasil. Besok aku harus berangkat pagi ke sekolah. Kemarin aku dimarahi karena terlambat. Semoga besok aku bisa bangun pagi.
Aku tidak ingat jam berapa aku berhasil
tidur. Ketika pagi datang, tidak ada yang membangunkanku. Aku bangun jam tujuh.
Artinya aku terlambat lagi. Aku segera ke kamar mandi. Kusiram tubuhku dengan
buru-buru lalu kupakai seragamku. Aku berjalan menuju kamar untuk mengambil
tas. Ketika aku berada di ruang tengah, kulihat cermin di dinding terbelah.
Bayanganku pecah di sana. Kuambil sisir kugunakan di rambutku. Aku menarik
sisir itu di rambutku yang berantakan. Selanjutnya aku mengambil tas di kamar
lalu segera keluar. Aku belum mengenakan sepatu. Sepatuku di pintu depan.
Ketika aku melewati ruang tamu, aku menginjak sesuatu yang tajam di lantai.
Telapak kaki kananku berdarah. Itu adalah pecahan gelas. Yang menancap ini sekecil
kacang. Namun runcing dan tajam. Dengan hati-hati, kucabut pecahan gelas itu
dari telapak kakiku. Aku harus menghidari beling-beling itu ketika berjalan.
Kupaksakan kakiku untuk dipasang kaos kaki dan sepatu. Sedikit perih rasanya.
Kaos kaki yang putih dihiasi noda merah.
Aku segera menaiki motor dan meninggalkan
rumahku. Dihantui oleh perasaan yang kacau, kubuat motorku kencang berlari. Tak
peduli dengan orang-orang di jalanan. Aku bersyukur, aku tiba di sekolah dengan
selamat. Tidak ada satpam yang menjaga di gerbang, jadi aku bisa masuk. Aku
menaruh motor di tempat parkir. Kemudian aku berjalan ke kelas. Aku sadar kunci
motorku masih tertancap di motor. Jadi aku kembali untuk mengambilnya.
Ketika sudah sampai di kelas, aku melihat
kak Budi sudah ada di mejanya. Dengan ragu aku mengetuk pintu. Seluruh penduduk
kelas menoleh dan memusatkan perhatiannya padaku. Sepertinya aku akan
mendapatkan hukuman.
Dan benar saja. Kak Budi memberikan hukuman
yang sangat konyol. Dia memintaku untuk mengumpulkan tanda tangan kakak-kakak
osis dengan huruf awalan ‘B’ pada namanya. Kak Budi mengancam akan memberi
hukuman yang lebih berat jika aku tidak melakukannya. Untuk yang pertama, aku
minta tanda tangan Kak Budi.
Saatnya turun ke lapangan dan melakukan
permainan. Dibentuk tim dalam beberapa permainan ini. Dengan menahan perih di
telapak kaki, aku melakukan permainan dengan terpaksa. Sayangnya, timku tidak
pernah menang dalam satu permainan pun.
Ketika istirahat, aku melanjutkan
hukumanku, mencari tanda tangan. Aku tanya kepada salah satu kakak osis siapa
saja pemilik nama dengan huruf awalan ‘B’. Dan aku berhasil mendaptkan dua
tanda tangan lagi. Artinya aku sudah mengumpulkan tiga. Mungkin ini sudah cukup.
Jadi aku datang menuju tempat kak Budi
berada dan menyampaikan hasil kerjaku. Geram wajah kak Budi ketika memegang dan
memeriksa pekerjaanku. Tanpa ragu, ia merobek kumpulan tanda tangan itu.
Sobekannya dihamburkan ke udara.
“Itu tidak cukup! Cari Lebih banyak!”
Aku berniat untuk pergi meninggalkannya.
Namun dia mengingatkanku untuk membersihkan potongan kertas yang berserakan di
tanah. Kukumpulkan potongan kertas itu di tanganku. Aku belum menemukan tempat
sampah. Oh. Di sana! Kubawa potongan kertas itu dan kulemparkan ke tempat
sampah. Kuamati tempat sampah yang penuh kotoran itu. “Dasar sampah!”
Seseorang duduk di sebelah pohon. Dari
sekitar banyak orang di lapangan, perhatianku tertuju padanya. Wajahnya
memancarkan cahaya. Belum pernah aku melihat lelaki semanis dia. Rambutnya
disisir ke samping. Potongan rambut yang dianggap culun oleh sebagian orang.
Namun itu berhasil membuatnya semakin manis dengan bibirnya yang tipis. Dua
bola mata terpasang sempurna di wajahnya yang dibasahi keringat. Itu juga
membuatnya semakin manis. Tubuhnya yang kecil tertutupi oleh seragam baru.
Warna putih seragam itu membuatnya semakin bercahaya.
Aku mengabaikan kondisi kakiku yang sedang
terluka. Aku berjalan dengan tenang seperti seorang koboi ketika menjemput
kudanya. Aku berjalan mendekatinya. Dia masih duduk di sana. Dia belum
menyadari keberadaanku.
“Apa kamu haus?” Aku mulai berbasa-basi.
Mungkin ini dapat membuatnya mau berteman denganku.
“Semua orang kehausan. Kenapa kau bertanya
seperti itu?” bukan jawaban yang kuinginkan.
“Kenapa Kau sendirian? Bukannya
teman-temanmu ada di sana?”
Aku tidak mendengar jawabannya. Ia tetap
diam dan mengalihkan pandangannya dariku. Sebaiknya aku mendekatinya. Aku duduk
di sampingnya. Aku memperhatikan tingkahnya.
Sudah cukup banyak ketidakberuntungan yang
terjadi padaku hari ini. Aku harus membalaskan kekesalan ini dengan sesuatu yang
menyenangkan. Bisa berarti sesuatu yang menyenangkan ini adalah berduaan dengan
teman baruku ini. Mungkin aku dan dia bisa membatalkan puasa bersama.
“Aku mau menyelinap ke warung. Aku butuh
orang untuk mengawasi satpam di depan. Kau mau membantuku tidak? Nanti kuberi
kau fanta.”
Aku sangat suka minum fanta. Fanta jeruk
adalah favoritku. Namun aku belum mencicipinya sejak bulan puasa tiba. Ini akan
menjadi fanta pertama.
“Aku tidak mau terlibat dengan perbuatan
dosamu. Kenapa kau tidak memilih teman sekelasmu?”
Aku sudah mendapat penolakan. Mungkin ini
bukan awal yang bagus untuk mendekati seseorang. Aku menyerah. Aku harus segera
pergi sebelum terjadi ketidakberuntungan yang selanjutnya.
“Baiklah kalau kau tidak mau. Aku akan
cari yang lain.”
Aku berdiri untuk menjauhinya. Namun
langkahku dihentikan oleh tangannya yang menggapai tanganku.
“Aku akan membantumu” begitu katanya.
Berubah pikiran secepat itu membuatku
penasaran, apa yang membuatnya menggapai tanganku.
“Bagus kala begitu.” Kataku.
Aku menjelaskan ke mana arah paling bagus
untuk sampai ke warung tanpa ada yang melihat.
Usahaku ini hampir digagalkan oleh dua
orang kakak osis. Namun berkat kecerdikanku, aku berhasil melewati rintangan
itu.
Sepertinya pak satpam sedang tidak
bertugas hari ini. Dari tadi pagi, ia tidak terlihat sedang berjaga di gerbang.
Jadi dengan aman aku dan dia bisa lewat.
Aku bertanya “Kau mau ikut tidak?”
“Aku di sini saja”
“Bagaimana dengan fantamu?”
“Tidak usah. Aku sudah tidak haus.”
Kuharap dia berbohong.
“Aku akan memberikannya sepulang sekolah.
Kamu bisa meminumnya ketika berbuka puasa.”
“Baiklah”
Aku berjalan keluar gerbang. Aku mendengar
langkahnya makin terdengar. Aku menghentikan langkahku. Dia mendekatiku. Aku
senang dia berubah pikiran.
Aku dan dia berjalan menuju warung. Dalam
perjalanan yang singkat, aku merasakan getaran di dada. Aku merasakan bagaimana
jadinya kalau dia juga suka denganku.
Ketika kami sampai di warung, kami
dikejutkan dengan keberadaan segerombolan siswa osis yang sedang makan bersama
ditemani es teh dan fanta menghiasi gelas-gelas mereka yang dibasahi dari
pendinginan es batu yang menggeletuk. Ini bukan awal yang bagus untuk kencan
pertama.
Aku dan dia dihukum di kelas. Hukumannya ditentukan
oleh teman-temanku. Aku tidak mengira pada akhirnya hukuman yang diberikan
sangat konyol. Mereka menyuruh kami untuk menyatakan cinta. Kami berdua diam
tanpa berani melakukannya. Benarkah ia juga suka padaku? Kalau iya, kenapa dia
tak kunjung mengatakannya. Mungkin seharusnya aku yang bilang.
“Hai, namaku Angga. Angga Saputra. Nama kamu
siapa?” mungkin perkenalan bisa menjadi awal untuk mendekatinya. Walau aku tahu
ini hanya hukuman konyol.
“Aku Lukas.” Nama yang manis. Sangat cocok
dengan wajahnya.
Mungkin aku harus segera memulai. Aku mau
hukuman ini segera berakhir. “Emm... Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Ia masih terdiam. Pandangannya tak pernah
tertuju padaku. Teman-temanku menertawakan aksiku itu.
“Tidak”


Komentar
Posting Komentar