Naskah Film: Seratus Ribu Rupiah


Di bawah ini adalah contoh script film. Judulnya adalah 'Seratus Ribu Rupiah'
Premis: "Rizal dituduh ibunya telah mencuri uang 100 ribu rupiah."

SERATUS RIBU RUPIAH
By
Rizki Maliki
Street Address
City, ST ZIP Code
Phone
Email


cut to:
int. rumah rizal - malam
RIZAL berjalan menuju kamar. IBU mengikuti di belakang.
ibu
(marah)
Mana Uangnya? Mana?
RIZAL masuk ke kamar lalu mengunci pintu. IBU mencoba untuk membuka pintu. Pintu tidak dapat terbuka. IBU mendorong pintu. IBU berteriak sambil menggedor pintu.
ibu
RIZAL! Mana uangnya? Uang seratus ribu yang di meja itu kamu yang ngambil ya? Dasar anak durhaka! Buka Pintunya. Cepat buka.
RIZAL duduk di sudut ruangan mendengarkan ibunya berteriak.
ibu (O.S)
Kamu gak kasihan sama ibumu. Ibu susah-susah nyari duit buat kamu. Kamu durhaka RIZAL. Kamu nyuri duit ibu.
rizal
Aku gak tahu Bu, bukan aku yang ngambil. Sumpah.
ibu (O.S)
Kamu sadar tidak? Kita ini keluarga miskin. Keluarga miskin, Rizal. Seharusnya kamu tahu keadaan keluarga kita. Cepat kembalikan uang itu.
RIZAL duduk memegangi keningnya. Lalu ia menengok ke kanan. Ia melihat jendela. Terlihat gelap malam langit dari jendela.
ibu
Cepat buka! Buka! Dasar anak durhaka! Cepat buka.
RIZAL berdiri lalu berjalan maju. Ia memegang gagang pintu lalu membuka kuncinya. Di depannya IBU berdiri. RIZAL langsung berjalan pergi.
ibu
Mau kemana kamu. Mau pergi? Cepat! Pergi sana. Cepat pergi. Dasar anak gak punya malu.
RIZAL keluar rumah. Ketika melewati meja, RIZAL menyeret taplak yang ada di atas meja, sehingga semua barang di atas meja TERJATUH.
ext. jalan – malam
RIZAL berjalan di jalan sendirian. Kadang kendaraan lewat di jalan. Di sampingnya persawahan yang gelap. Terdengar suara HAPE RIZAL bergetar. Ia menghentikan langkahnya. Ia mengangkat hapenya. Ibu menelepon. RIZAL mematikan hapenya.
Di depan terlihat sebuah warung.
int. warung – malam
RIZAL duduk di sebuah bangku.
rizal
Kopi. Satu.
RIZAL duduk di kursi. Sesaat kemudian, ia memegang keningnya. Ia memjamkan mata dalam-dalam.
pujo(o.s)
Saya selalu melarang anak saya keluar malam. Kenapa kamu belum pulang?
RIZAL membuka matanya, lalu melihat ke samping. PUJO, seorang pria yang umurnya sekitar empat puluhan, rambutnya sudah beruban duduk di sampingnya.
pujo
Biasanya, anak muda selalu keluar ruma bersama teman-temannya. Menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ngopi..., nongkrong..., jalan-jalan..., nonton bola..., atau nonton...,
RIZAL melihat wajah PUJO dengan kebingungan.
pujo
Saya tahu. Karena dulu saya juga pernah muda. Dulu saya suka main sama teman-teman saya. Mana teman-teman kamu?
RIZAL melihat PUJO.
pujo
Apa kamu tidak punya teman? Atau mereka belum datang?
rizal
Aku cuma ngopi saja.
pujo
Saya tahu. Kadang anak muda juga butuh kesendirian. Haha..
PENJAGA WARUNG datang menyajikan kopi di atas meja
pujo
Tapi, saya tidak akan mengizinkan anak saya keluar malam sendirian seperti ini.
PUJO mengambil rokok di sakunya, lalu menjepitnya diantara jarinya.
pujo
Kamu tahu kenapa? Karena dia anak perempuan. Saya sayang anak saya. Tapi jika dia laki-laki, saya izinkan dia keluar malam. Bukan karena tidak sayang. Itu cara bapak menyayangi anak laki-lakinya. Haha...
PUJO menaruh rokok di mulutnya, lalu ia merogoh semua kantong di pakaiannya untuk mencari korek. Ia tidak menemukan korek. PUJO berbicara dan rokok masih di mulutnya.
pujo
Maaf, boleh saya pinjam korek?
rizal
Em... Saya tidak merokok.
Mata PUJO melirik ke atas.
PUJO
Oh.
PUJO melepas rokok dari bibirnya. Ia menaruh rokok di sakunya.
rizal
Saya juga tidak mengizinkan anak saya merokok. Walau jika anak saya laki-laki.
PUJO mengambil cangkir di meja, lalu menyeruput kopi.
PUJO mengacungkan telunjuknya.
PUJO
Sebentar, saya mau kasih lihat kamu anak saya.
PUJO mengambil hape dari sakunya. Ia memencet-mencet hape itu.
pujo
Ini. Namanya Amel. Cantik ya?
RIZAL mengangguk heran. Jari PUJO menggeser-geser foto di hapenya. Mereka melihat foto-foto di hape.
pujo
Sebentar lagi dia kuliah. Dia mau mengambil jurusan Akuntansi.
RIZAL menatap mata PUJO.
pujo
Apa yang kamu ambil, Nak?
TATAP MATA RIZAL kemana-mana.
pujo
Kenapa kamu mengambil itu, Nak?
RIZAL terdiam sebelum berkata.
Sekejap Kita melihat uang seratus ribu di layar.
rizal
Aku tidak mengambilnya.
(beat)
Bukan aku yang mengambilnya.
pujo
Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?
rizal
Aku mengatakan yang sebenarnya.
(beat)
Maaf, Pak. Saya harus pergi.
RIZAL berdiri menghampiri PENJAGA WARUNG. Ia mengeluarkan uang SERATUS RIBU lalu memberikannya kepada PENJAGA WARUNG.
PUJO melihat uang yang dibawa RIZAL.
PENJAGA WARUNG
Gak ada uang kecil, mas. Gak ada kembaliannya.
rizal
Gak ada,
pujo
Saya yang bayar.
PUJO berdiri menghampiri RIZAL. Ia mendekat ke telinga RIZAL. PUJO berbisik.
pujo
Anak saya hamil di luar nikah.
(beat)
Dia melakukannya di siang hari.
PUJO melanjutkan bisikannya. Kita tidak dapat mendengarnya.
RIZAL kebingungan.
rizal
Terima kasih.
pujo
Sudah kewajiban saya.
(beat)
Sebagai seorang ayah.
RIZAL berjalan keluar dari warung.
ext. jalan – malam
RIZAL berjalan di pinggir jalan. Di sampingnya banyak kendaraan lewat.
RIZAL mengambil hape dari sakunya, lalu menekan tombol power sampai menyala. Ketika menyala, ia mendapat PESAN DARI IBU.
“PULANGLAH, NAK. UANGNYA SUDAH KETEMU. TERNYATA PAMAN YANG NGAMBIL”
RIZAL tersenyum, lalu menaruh kembali hapenya di saku. Tak lama, hapenya bergetar.
Telpon datang dari PAMAN. RIZAL mengangkatnya.
rizal
Halo, Paman.
paman (o.s)
Halo, Rizal.
rizal
Terima kasih, Paman.
RIZAL tersenyum.
paman (o.s)
Sudah kewajiban saya.
(beat)
Sebagai Paman.
(beat)
Kamu jangan pulang dulu. Mampir dulu ke rumah Paman. Paman mau bilang sesuatu.
RIZAL menutup telepon.


cut to:
blank screen.
the end

Komentar

Postingan Populer