Makan Siang

Aku duduk di sebuah kursi di kantin. Tersaji nasi sayur asam dan kerupuk di meja. Di depanku duduk seorang laki-laki berewok berkacamata. Namanya adalah Yanto. Dia makan lahap sekali. Sedangkan aku cuma mengaduk-ngaduk makananku.

"Aku tahu ini bukan makanan yang kamu suka. Kamu sukanya sambal gereng kan? Sayangnya mereka tidak masak sambal goreng sekarang. Kalau kamu tidak suka, aku akan memakannya" Kata Yanto. Kudorong piringku ke depan.

"Rudi! Ada apa denganmu? Kalo ada masalah cerita dong" Yanto menatapku dan memperhatikanku.

"Tidak. Aku tidak punya masalah. Hanya saja, kadang semua ini membuat aku bingung"

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak tahu. Apa semua ini nyata? Apa orang yang berdiri di sana nyata? Apa ruangan ini nyata? Apa kursi yang kita duduki ini nyata? Apa makanan yang kita makan ini nyata?"

"Bahkan kamu belum memakan satu sendok pun" Yanto tersenyum ke arahku. "Sekarang kamu membuatku takut. Apa yang membuatmu seperti itu?"

"Aku bingung. Aku tidak bisa membedakan mana yang nyata, mana yang ilusi. Kurasa kita ada di alam mimpi. Kurasa ini cuma mimpi" Aku berkata dengan ketakutan.

Yanto mengambil lengaku lalu mencubitnya. "Aduh..." Aku berteriak.

"Kalau kamu masih bisa merasakan sakit, kamu tidak sedang bermimpi"

"Aku merasa semua ini nyata. Tapi ada hal yang membuatku merasa bingung"

"Apa itu?"

"Aku tidak tahu" Aku memejamkan mata dalam-dalam. Kuremas kepalaku.
Tiba-tiba Yanto berkata "Ngomongin soal mimpi, aku punya mimpi besar yang ingin aku capai"

Aku menjawab "Benarkah? Apa itu?"

"Aku ingin membangun rumah yang besar di desa. Aku ingin tinggal di sana, tua di sana, dan mati di sana. Aku sudah muak hidup di kota. Polusi dan kepenatan ini membuatku pusing. Kamu tahu aku suka berenang. Aku juga ingin membangun kolam renang di sana. Kurasa itu menyenangkan"

"Siapa yang menemanimu di sana?"

"Seseorang yang aku cintai" Yanto menyendok makanan. "Tapi itu cuma mimpi". Ia menyantap makanannya dengan nikmat. "Lalu apa mimpi kamu?"

Aku terdiam sesaat memikirkan tentang mimpi. "Entahlah. Aku tidak yakin punya mimpi"

"Semua orang pasti punya mimpi" Yanto masih tetap memperhatikanku sambil mengunyah makanannya. "Sekarang aku ganti pertanyaannya. Seandainya saat ini kita sedang berada di alam mimpi, apa yang kamu lakukan"

Aku tersentak mendengar Yanto bilang begitu. "Kurasa kita memang sedang di dalam mimpi. Jika ini mimpi, aku bisa makan sepuasnya tanpa perlu membayar"

"Lalu kenapa tidak kamu lakukan"

"Aku tidak lapar. Lagipula, aku tidak yakin ini mimpi atau nyata" Aku terdiam memandangi Yanto duduk di sana makan dengan lahapnya. "Lalu bagaimana denganmu? Jika ini mimpi, apa yang kamu lakukan?"

Ia menaruh sendok di piringnya. Menelan makanan di mulutnya lalu mengambil segelas air putih di meja. Diminum seteguk air dari gelas lalu berkata "Jika aku tahu ini cuma mimpi, aku akan mencium bibirmu"

Aku kaget mendengar keinginannya itu. Aku menatap wajahnya dan berkata "Kenapa?"

"Karena aku mencintaimu. Aku ingin kita bersama. Di desa. Di rumah kita”

"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya? Kenapa kamu tidak menciumku”

“Kita sudah melakukannya beberapa saat yang lalu. Bahkan lebih dari itu”

“Apa maksudmu?” Aku tambah bingung.

“Kadang kita tidak dapat mengingat mimpi kita sendiri. Kamu pasti lupa. Kita masih di dalam mimpi” Suara Yanto perlahan pudar lalu berganti dengan suara alarm di meja kamarku. Aku terbangun dari mimpi aneh itu. Aku merasa ada yang basah dan lengket di celanaku.

Ini adalah hari selasa. Suasana di kantor tak seperti biasa. Aku merasakan kehampaan. Kulakukan semua pekerjaanku dengan kurang semangat. Sampai tiba saatnya jam istirahat makan siang. Susi, teman kerjaku mengajak untuk makan bersama. Biasanya aku menolak karena aku tidak suka makan siang, tapi kali ini aku mengikuti ajakannya.

Aku berjalan menuruni tangga menuju kantin. Aku sangat lesu dan kurang semangat. Susi juga begitu.

"Are you okey?" kata Susi.

"I'm fine"

Sesampainya di kantin, aku melihat sekitar lalu duduk di sebuah kursi. Tepat di mana aku duduk di mimpiku. Susi datang membawa dua porsi makanan. Ia meletakkannya di meja. "Hari ini kita makan sambal goreng. Kamu pasti suka. Iya kan, Rudi?" Kata Susi.

Aku hanya menjawab Susi dengan senyuman. Senyum palsu. Aku teringat dengan kata Yanto di mimpiku.

"Akhir-akhir ini kamu terlihat murung" Kata Susi.

"Benarkah?" Kusantap makanan di meja.

"Iya. Terlihat jelas sekali. Aku tahu kita semua kehilangan"

"Tadi malam aku bermimpi tentang Yanto. Saat itu aku duduk tepat di sini. Dia duduk di kursi yang sedang kamu duduki. Aku dan Yanto makan bersama"

"Apa dia berkata sesuatu?"

Kutaruh sendokku di piring lalu menjawab pertanyaan Susi "Tidak. Aku tidak ingat. Yang pasti, mimpi itu seperti nyata"

"Sebelum dia pergi, dia pernah bilang sesuatu padaku" Kata Susi.

"Apa yang dia katakan?"

"Saat itu dia duduk di kantor. Ia meliahat ke jendela lalu berkata 'Dunia ini sekarang sudah mulai panas. Aku ingin keluar kota dan hidup di desa. Di kampung kecilku dulu"

Aku tersentak kaget mendengar cerita Susi sampai aku tak sengaja menjatuhkan sendokku. "Apa lagi yang ia katakan?"

"Dia cuma bilang itu. Aku bertanya padanya 'Dengan siapa kamu di sana?'. Dia cuma diam menatap jendela"

Aku terdiam dan merenung. Menyesal selama ini aku menyia-nyiakan keberadaan Yanto. Berharap Yanto masih hidup.

Komentar

Postingan Populer