Sepasang Burung: Kisah Kasih Anak SMK. Bagian 1: Pandangan Pertama
Bagian 1: Pandangan Pertama
Aku tak sengaja menginjak batu besar dan itu membuatku terjatuh. Semua
orang menertawakanku sementara aku meringis kesakitan dengan luka goresan di
lenganku. Sungguh menyebalkan sekali Masa Orientasi Siswa dilaksanakan pada
saat bulan puasa. Yang lebih menyebalkan adalah, aku menjadi pesertanya.
Sebagai anak baru, kami dipaksa melakukan permainan bodoh yang mereka sebut
sebagai ‘ujian kekompakan’. Aku tak peduli kekompakan dalam tim. Yang
kupikirkan hanya tenggorokanku yang kering seperti gurun pasir. Sepertinya air
liurku tak cukup untuk membasahi gurun pasir. Aku tak peduli ketika mereka
menyebut timku sebagai tim yang tidak pernah menang dalam satu permainan pun.
Ketika waktu istirahat, aku memilih mengasingkan diri dari teman-teman
kelas yang baru saja kukenal kemarin melalui perkenalan yang membosankan. Aku
duduk di bersandar di dinding sebelah pohon. Kulihat orang-orang mulai
membubarkan diri dari lapangan dan mencari tempat yang teduh. Aku memilih
tempat ini karena belum ada orangnya. Dan kuharap tidak ada yang mengikutiku ke
sini. Semua tampak tenang dengan dedaunan pohon yang memayungi tubuhku dari
matahari. Sampai datang seseorang berdiri di depanku. Dari sepatunya olah raga
yang ia kenakan, kurasa dia anak orang kaya. Dari seragamnya, aku tahu ia juga
anak baru. Dari kacamata yang ia kenakan, ia pasti penderita rabun jauh.
“Apa kau haus?” Ia bertanya.
“Semua orang kehausan. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Kenapa kau sendirian di sini. Bukannya teman-temanmu ada di sana?”
Aku tidak ingin menjawabnya. Jadi aku hanya diam dan mengalihkan
pandanganku pada burung yang sedang hinggap di pohon. Sepertinya orang itu
sebal karena kuabaikan. Bukannya pergi, ia malah duduk di sampingku. Itu
membuatku sedikit terganggu karena kita berdua sama-sama laki-laki. Aku tidak
mau orang-orang memperhatikanku.
Ia mendekat dan berbisik “Aku akan menyelinap ke warung. Aku butuh orang
untuk mengawasi satpam di depan. Kau mau membantuku tidak? Nanti kuberi kau
fanta”
“Aku tidak mau terlibat dengan perbuatan dosamu. Kenapa kau tidak memilih
teman sekelasmu?”
“Baiklah kalau kau tidak mau. Aku akan cari yang lain”
Lelaki itu berdiri dan melangkah menjauh. Kurasa tidak ada salahnya membantunya
berbuat dosa. Mungkin sebotol fanta bisa kuminum ketika buka puasa nanti. Aku hanya
menemaninya sampai gerbang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jadi aku
menggapai tangannya.
“Tunggu!”
Ia menghentikan langkahnya sehingga aku melepaskan tangannya. Sempat
menyesal, kenapa tadi aku memegang tangannya. Aku tidak harus melakukan itu.
“Aku akan membantumu” kataku.
Ia tersenyum mendengar kalimatku. Ia meraih tanganku dan membantuku
berdiri. Kenapa ia melakukan itu. Ia tidak harus melakukan itu.
“Bagus kalau begitu” katanya.
Ia menjelaskan kemana kita harus pergi. Katanya, kita tidak bisa lewat
jalan utama karena banyak kakak osis di sana. Kita harus melalui lorong sekolah
untuk sampai di tempat parkir, lalu belok kiri sampai ke depan sekolah.
Ketika kami sampai di lorong sekolah, rintangan pertama muncul. Teman
baruku ini menyuruhku untuk berhenti. Sepertinya di depan ada ancaman. Seorang
siswi osis duduk di kursi panjang. Lalu datang seorang siswa osis menemani ia
duduk. Aku melihatnya dari kejauhan.
“Jika mereka bertanya pada kita, bilang kalau kita disuruh mencari Kak
Bekti” ia menjelaskan rencana.
“Tapi siapa Kak Bekti itu?”
“Aku tidak tahu. Pokoknya lakukan saja”
Kami berjalan begitu saja. Lalu salah satu kakak osis itu mencegat kami.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Seperti rencana, aku akan menjawab kita sedang mencari Kak Bekti. “Kami
mencari Kak Bekti”
“Oh. Begitu. Aku Kak Bekti. Apa mau kalian?” kata kakak osis itu.
Mampus. Sebuah kebetulan terbesar dalam sejarah umat manusia. Bagaima bisa
namanya Kak Bekti. Apa yang harus kulakukan. Aku bingung harus menjawab apa.
Kak Bekti berhasil membuat tubuhku diguyur keringat. Aku menoleh ke teman
baruku. Mungkin ia punya jawaban cerdas.
“Kami terlambat tadi pagi. Jadi Kak Budi menghukumku dengan menyuruhku
mengumpulkan tanda tangan kakak osis yang namanya berawalan huruf ‘B’”
“Jadi, sudah berapa banyak tanda tangan yang kamu kumpulkan?”
“Tiga. Tapi kak Budi menyobeknya karena katanya kurang lengkap.”
“Baiklah kalau begitu”
Temanku mengambil secarik kertas dari saku celananya, membaginya menjadi
dua, dan memberikannya kepada Kak Bekti. Ia melakukannya karena tahu aku tidak
membawa kertas. Kak Bekti berbaik hati tidak memarahiku karena itu. Sambil
memberi tanda tangan di kertas, ia memberi nasihat kepada kami tentang
kedisiplinan. Itu sempat menciutkan nyaliku buat menemani teman baruku berbuat
dosa.
“Kalian tidak ingin tanda tanganku?” tanya siswi osis yang sedang duduk.
“Kalau nama kakak diawali dengan huruf ‘B’ kami mau.”
“Namaku Tania. Memang tidak diawali dari huruf ‘B’. Tapi aku terkenal loh
di sekolah. Bulan depan aku akan mengikuti kontes kecantikan ‘Kakang Mbakyu’.
Pasti kamu tahu itu. Tahun lalu aku memang tidak berhasil meraih juara, tapi
aku yakin bulan depan piala itu akan menjadi milikku. Dan Kak Bekti akan jadi
Kakangnya. Pasti cocok sekali ya!”
Kami melongo mendengar celotehan kakak kemayu ini. Yang pasti kami ingin
mereka segera pergi.
“Kamu pasti ingin mendapatkan tanda tanganku. Teman-teman kalian pasti iri
melihat kalian punya tanda tangan Kak Tania”
“Terima kasih, Kak. Tapi kami harus segera pergi” kata temanku.
“Mau kemana kalian?”
“Karena tadi pagi aku buru-buru, aku lupa tidak mencabut kunci motorku. Aku
harus segera mengambilnya”
“Baiklah. Semoga kamu menemukannya”
Mereka berdua pergi. Lalu temanku menarik tanganku. “Apa itu benar?”
tanyaku.
“Yang mana?”
“Apa kau disuruh mencari tanda tangan itu?”
Temanku ini tersenyum mendengar pertanyaanku, lalu menjawab “Sebenarnya
iya. Dan aku bersyukur itu bisa menyelamatkan kita”
“Lalu, bagaimana dengan kunci motormu? Apa itu juga benar?”
“Tidak” Temanku merogoh sakunya dan menunjukkan kunci motornya.
“Lalu kenapa kamu terlambat?”
“Aku tidak mau membahasnya”
Ketika sampai di parkiran motor, aku bersyukur karena tidak ada lagi
rintangan di sana. Sekarang tinggal belok kiri dan menuju gerbang sekolah.
Tidak seperti rencana. Ternyata satpam yang menjaga gerbang. Kesempatan bagus.
“Kau mau ikut atau tidak?”
“Aku di sini saja”
“Bagaimana dengan fantamu?”
“Tidak usah. Aku sudah tidak haus” Sebenarnya aku berbohong.
“Aku akan memberikannya sepulang sekolah. Kamu bisa meminumnya ketika
berbuka puasa”
“Baiklah”
Dia pergi keluar gerbang yang terbuka lebar. Tidak ada siapa-siapa yang
berjaga di gerbang. Jadi kupikir, aku bisa menemaninya dan berkenalan lebih
dekat dengannya. Itu pasti bagus bagiku, mengingat aku belum mendapatkan teman
baru di sekolah ini. Jadi aku keluar dan menyusulnya dari belakang. Dia
berhenti dan menungguku berjalan mendekatinya.
“Berubah pikiran?”
“Aku takut jika Kak Bekti dan Kak Tania menanyakan kamu dimana”
Telunjuk temanku ini menunjukkan dimana warung yang ia maksud. Tak jauh
dari sekolah. Tapi permainan dan senam tadi pagi membuat perjalanan ini terasa
sangat melelahkan sampai akhirnya kami tiba di depan warung. Karena bulan
puasa, warung itu ditutup tirai gelap. Temanku ini membuka tirai dan kami
berdua terkejut melihat apa yang kami lihat di dalam. Segerombolan siswa osis
sedang makan bersama di dalam ditemani es teh dan fanta menghiasi gelas-gelas
mereka yang dibasahi embun dari pendinginan es batu yang suaranya bergeletuk.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya salah satu dari mereka.
“Kami ingin minum” kurasa temanku ini cukup percaya diri mengLukasp mereka
akan memaafkan kita yang telah mengganggu privasi mereka, makan dan minum di
bulan puasa. Gerombolan kakak kelas itu saling menatap. Lalu salah satu dari
mereka berkata “Setelah aku menghukum kalian di kelas”
Sial! Ini adalah hari yang menyebalkan. Permainan bodoh berhasil memberiku
hadiah berupa luka di lengan dan memunculkan kemarau di tenggorokanku. Kurasa
itu belum cukup sehingga hukuman ini menjadi pelengkapnya.
“Kalian dari kelas apa?” tanya salah satu dari mereka. Temanku menjawab TKJ
2 dan aku menjawab Multimedia 1. Kakak yang bertanya tadi menggerumbul bersama
teman-temannya untuk mendiskusikan mau dibawa kemana kami berdua. Kuharap
mereka tidak memilih neraka.
Kakak osis itu berdiri dengan tatapan yang tajam sebelum berkata “Kalian
akan kubawa ke kelas TKJ 2. Lalu kita lihat hukuman yang cocok buat kalian
nikmati.”
Kakak osis itu menyuruh kami untuk mengikutinya. Kami berdua berjalan di
belakangnya. Banjir tubuhku dengan keringat. Tapi tidak dengan temanku. Ia
setenang es batu. Tak terlihat sedikit
pun ketakutan di wajahnya. Itu membuatku penasara. Apa yang membuatnya bisa
seperti ini?
Setelah perjalanan yang menegangkan, akhirnya kami tiba di kelas temanku.
Semua siswa tampak sedang istirahat di dalam kelas. Beberapa duduk di luar
sehingga kak osis menyuruh mereka masuk dan duduk di bangku masing-masing. Di
dalam sudah ada seorang kakak osis yang sedang duduk di meja guru. Dari
tebakanku, mungkin itu Kak Budi. Aku tahu itu benar setelah kakak osis yang
mengantarku memanggilnya. Kak Budi berbisik sebentar dengan Kakak osis yang
mengantarku. Mereka menyuruh kami untuk tetap berdiri di depan papan tulis dan
membiarkan kami menyaksikan wajah-wajah penasaran siswa-siswi tentang apa yang
membuat kami berdiri di sini. Kurasa rasa penasaran mereka segera terjawab.
“Apa kalian haus?” teriak kak budi kepada pendengar yang duduk di bangku
masing-masing.
Dengan serentak, mereka menjawab “Hauuuus...”
“Apa kalian lapar?”
Dengan serentak juga “Lapaaar...”
Kak budi melangkah mendekati kami berdua sebelum mengumandangkan
teriakannya lagi. “Kalian tahu, apa yang dilakukan mereka berdua?”
Beberapa penonton saling menoleh dan berbisik. Kebanyakan dari mereka
menjawab tidak.
“Kita semua puasa. Kita semua haus. Tapi teman kalian ini, malah keluar
dari sekolah. Makan di warung” teriak kak Budi.
Seketika para penonton berteriak “Huuu...”
Ya Tuhan! Aku baru saja difitnah. Aku hanya masuk ke warung. Itu saja.
“Jadi, hukuman apa yang cocok untuk mereka?” tanya Kak Budi.
Suasana kelas menjadi hening. Ada yang berbisik. Ada yang berdiskusi.
Bingung memilih hukuman untuk para pendosa seperti kami berdua. Seseorang
berkata ‘baca puisi’. Seseorang berkata ‘senam’. Seseorang berkata ‘joget’.
Jika aku bisa memilih, aku akan memilih baca puisi. Karena itu yang paling
mudah. Dan tidak memalukan.
Sampai suatu saat, salah satu siswa berkata “Suruh mereka jadian aja!”
Semua langsung tertawa mendengar kalimat itu. Kami, para terdakwa hanya
tersenyum malu.
Tentu saja kami menolak. Tapi kakak osis dan teman-teman sekelas terus
memaksa. Setelah sekian penolakan dan sekian paksaan, akhirya temanku ini
memberanikan diri untuk bicara.
“Hai, namaku Angga. Angga Saputra. Nama kamu siapa?” dia berkata dengan
penuh canda dan senyum lebar di wajahnya. Berani sekali dia bilang gitu.
“Ciye...” teriak para penonton. Kebanyakan dari mereka tertawa cekikikan
melihat penderitaan kami.
“Aku Lukas” setiap kami berkata, semua orang teriak ‘ciye’
“Emm... Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Aku melihat ke arah para penonton. Mereka tertawa bahagia sekali melihat
temannya dipermalukan. Aku tersenyum lebar dan kutaruh kedua tanganku di saku
celana. Itu adalah pilihan mudah. Aku tinggal bilang ‘tidak’. Tapi entah kenapa
itu sulit sekali. Akhirnya aku mengatakannya.
“Tidak”
Ada yang teriak ‘yah...’ ada yang teriak ‘hu...’


Komentar
Posting Komentar