SEPASANG BURUNG: KISAH KASIH ANAK SMK. BAGIAN 2: BUNGA TIDUR
Sial sekali hari ini.
Mungkin ini adalah hari terburukku. Aku dipermalukan dengan hukuman konyol itu.
Aku kembali ke kelasku dengan penuh rasa malu. Kupalingkan wajahku ketika orang
melihatku. Aku duduk di bangku paling belakang dan menyembunyikan wajah di
meja.
Aku mendengar
seseorang memanggil namaku. Kulihat ke belakang dan orang itu tersenyum sambil
membawa sebotol fanta. Aku tak ingat namanya. Lelaki itu terus mengejekku
dengan minuman yang diminumnya itu. Kuharap tadi dia tidak melihatku dihukum.
Kuharap dia dihukum.
Waktu berjalan begitu
lama. Aku tak berhenti memperhatikan jam di dinding, menunggu waktunya pulang.
Kenapa lama sekali. Bel berbunyi. Dan itu bukan bel pulang, melainkan bel
masuk. Kakak osis datang dan memberikan materi yang membosankan.
Sesampainya di rumah
aku langsung menghujani tubuhku dengan air di kamar mandi lalu tenggelam dalam
selimut yang hangat. Berharap semua yang terjadi hari ini dapat kulupakan.
Mandi membuat luka di lenganku terasa perih. Jadi kupeluk erat gulingku.
Aku tak sengaja
menginjak batu besar sehingga aku tersungkur dan tanah yang kasar berhasil
melukai lenganku. Tak lama, seorang lelaki datang dan membantuku berdiri. Ia
tersenyum kepadaku dan memperkenalkan dirinya. “Namaku Angga. Siapa namamu?”
“Aku Lukas”
Angga mengantarku ke
UKS untuk membersihkan lukaku. Dengan hati-hati ia menyapu lukaku dengan kapas
basah.
“Kamu istirahat di
sini saja. Aku akan segera kembali”
“Kemana kamu pergi?”
“Aku mau mencarikanmu
minuman. Kamu di sini saja”
Ia memasang sepatu
lalu keluar dari UKS. Aku melirik dari jendela dan penasaran kemana ia pergi.
Aku memutuskan untuk turun dari ranjang dan memasang sepatuku. Aku keluar dan
mengikuti Angga. Ia berhenti untuk menungguku sampai menghampirinya. Senyumnya
mengisyaratkan bahwa aku boleh ikut.
Kami melintasi lorong
sekolah dan tempat parkir lalu kami tiba di gerbang sekolah. Tidak ada satpam
di sana. Kami keluar dengan leluasa.
Di warung, kami duduk
pada bangku kayu panjang dengan meja di depannya. Angga menuang fanta dari botol,
mengalir menuju gelas, menciptakan gelembung-gelembung kecil yang ingin
terbang. Beberapa dari mereka memilih untuk tinggal dan menempel di gelas,
ditemani es batu yang jernih.
Di saat Angga
mengambil gelas kedua, aku mengambil sebuah es batu dari gelas dan
menempelkannya pada lukaku. Sejuk rasanya berteduh dari matahari, di bawah atap
tanah liat ditemani Angga.
Aku memperhatikan
senyum yang ikhlas ketika Angga menuang fanta pada gelas kedua. Wajahnya
bersinar bagai mentari yang membakar lapangan. Sepertinya ia tahu bahwa aku
sedang memperhatikannya.
Musik terdengar
ketika Angga mengatakannya. Langit berubah menjadi merah muda. Kupu-kupu
beterbangan di tubuhku yang basah dan hangat karena jantung yang bekerja lebih
semangat dari biasanya.
“Maukah kau menjadi
pacarku?” itu yang dikatakan Angga.
“Kenapa aku?”
Bukannya menjawab,
Angga malah menyambar bibirku. Kupenjamkan mataku dan kunikmati bibirnya yang
lembut. Hangat peluknya mendorongku untuk berbaring. Gema napas kami terdengar
berpadu dengan musik indah di udara. Bibir Angga mendekat ke telingaku dan
berbisik “Karena kamulah orangnya.” Kutarik bajunya, seolah tak mau melepas
peluknya.
Ibu berteriak
membangunkanku. Hentakan di pintu kamar yang kukunci merusak mimpiku bersama
Angga. Aku tak ingat sampai mana mimpiku tadi. Aku bangun dari kasur. Kubilang
pada ibuku bahwa aku sudah bangun.
Oh, tidak. Aku
merasakan ada sesuatu yang lengket di dalam celanaku. Sepertinya itu berasal
dari salah satu bagian di mimpiku yang tidak kuingat. Kuharap mimpi basah tidak
membatalkan puasa. Aku belum bisa memastikan hal itu. Jika memang puasaku
batal, artinya ini adalah hari tersial yang pernah ada.
Kupastikan ibuku
tidak ada di balik pintu sebelum aku membukanya. Aku menyelinap ke kamar mandi.
Dengan kesal, aku mandi untuk yang ketiga kalinya hari ini. Tidak ada yang
spesial pada menu buka puasa hari ini. Masih pantaskah disebut sebagai menu
buka puasa ketika puasaku sudah batal. Suara bedug magrib memanggilku untuk
mengambil makanan di dapur. Aku menyantap hidanganku setelah kakak laki-lakiku
memimpin doa. Hari ini adalah gilirannya. “Gimana sekolahmu hari ini, Lukas?”
tanya kakakku di sela makan buka puasa. Kutelan makananku sebelum menjawabnya.
“Aku tidak mau membahasnya”
“Tadi kamu langsung
tidur. Pasti melelahkan sekali”
“Begitulah”
“Kuharap tadi kamu
sudah salat”
***
Tina memilih sekolah
bersamaku setelah ia pesimis dengan nilai yang keluar dari rapornya. Sebelumnya
ia memilih untuk menjadi siswa di SMA favorit di kota. Menurutnya ia tak bakal
mampu lolos ujian masuk karena masih banyak yang lebih pintar dan pantas untuk
menjadi siswa SMA 1. Akhirnya ia memilih untuk tetap satu sekolahan denganku.
Kurasa sekolah yang kami pilih juga bagus, mengingat ujian masuknya cukup sulit
dan pendaftarnya yang banyak. Tina berteriak dan menggenggam tanganku ketika ia
tahu nama kami tercantum di daftar siswa yang diterima.
Aku dan Tina
bertetangga sejak kecil. Namun pertemanan baru dimulai ketika kami duduk di
bangku SMP, mengingat ketika kecil aku tidak pernah keluar rumah.
Masa orientasi siswa
dilaksanakan selama lima hari. Aku sangat senang ketika masa pengenalan itu telah
berakhir. Artinya libur bulan puasa telah tiba, dilanjutkan dengan libur
lebaran. Dua minggu panjangnya.
Aku ingat nama lelaki
itu Angga. Tubuhnya lebih tinggi dariku. Wajah bulatnya dihiasi kacamata dengan
frame persegi. Kurasa superman juga
menutupi identitasnya dengan kacamata sejenis itu. Rambut lelaki itu berdiri
seperti rumput yang tumbuh di depan rumah. Kurasa ia berusaha untuk menyisirnya
ke belakang, namun tidak berhasil. Walau begitu, mahkotanya itu berhasil
membuatnya menjadi lelaki tampan. Lelaki yang muncul di mimpi basahku.
Aku senang ketika
mengetahui mimpi basah tidak membatalkan puasa. Aku baru mencari jawabannya di
internet. Aku masih ragu dengan hal itu. Yang penting aku sudah mandi wajib.
Aku senang libur telah tiba. Kuhabiskan sisa bulan puasa di rumah. Tak
ada lagi permainan bodoh Masa Orientasi Siswa. Aku begitu membenci kegiatan
seperti itu. Aku bukan orang yang suka bermain dengan teman-teman. Apalagi jika
itu permainan adu kekompakan. Dari kecil aku tidak selalu bermain sendiri di
rumah. Aku tidak mampu menerbangkan layangan. Aku tidak tahu bagaimana
peraturan permainan kasti.
Mungkin aku membenci Masa Orientasi Siswa kemarin karena semua kesialan
yang terjadi. Namun aku akan mengenangnya, sama seperti aku mengenang Angga
menyatakan cintanya padaku. Apakah dia tulus mengatakannya? Ah... Ngomong apa
aku ini. Dia ngomong gitu pasti biar cepat selesai hukumannya. Buat apa aku
mengharapkan cintanya.
Sudah tiga hari aku malas-malasan di rumah. Aku mulai bosan dengan hari
libur. Mungkin jika aku masuk sekolah, aku bisa bertemu Angga.
baca selanjutnya
baca selanjutnya


Komentar
Posting Komentar