SEPASANG BURUNG: KISAH KASIH ANAK SMK. BAGIAN 3: Kamu Masih Ingat Denganku?


Tina mengirim sms yang bertuliskan “Jangan lupa! Besok sudah masuk”. Itu artinya ada kesempatan buat bertemu lagi dengan Angga. Itu yang aku harapkan selama liburan. Aku ingin tahu siapa dia, di mana rumahnya, apa hobinya, berapa usianya, bahkan aku juga ingin tahu berapa ukuran sepatunya.

Bulan puasa sudah berakhir. Salad Ied juga sudah dilaksanakan. Tinggal menanti hari pertama masuk sekolah di esok pagi. Agus mengajakku untuk berangkat sekolah bersama besok. Seolah Agus berbeda dengan sekolahku, jadi aku menolaknya.

“Kalau begitu, aku akan mengajak Tina” begitu bunyi sms Agus.

“Lalu, kamu kemanakan pacarmu? Nanti pacarmu marah kalau kamu berangkat sekolah sama Tina” balasku.

Aku, Agus, dan Tina menjadi sahabat sejak SMP. Dulu kami duduk di kelas yang sama, bergosip bersama, belajar bersama, menyontek bersama. Itu karena mereka asyik denganku. Dulu bangku kami juga berdekatan. Saat itu aku duduk satu meja dengan Agus. Di belakangku, Tina duduk sendirian. Seharusnya ia duduk bersama Linda, sahabatku yang lain. Namun ia sudah meninggal ketika kami duduk di kelas 2. Tidak ada yang duduk di sana setelah itu.
Sekarang aku dan Tina melanjutkan ke sekolah yang sama. Sementara Agus memilih untuk sekolah di tempat yang berbeda. Pacar alasannya.

“Biarin. Aku udah putus”

Aku tak kaget mendengar kabar itu. Sudah tak terhitung berapa kali Agus putus sama pacarnya. Sudah tak terhitung berapa pacar yang dia putusin. Dan aku tidak mau menghitungnya. Tapi itu cukup disesalkan, mengingat ia memilih sekolah demi pacarnya. Kasihan sekali dia. Jadi aku memutuskan di hari pertama masuk sekolah besok, aku menemaninya berangkat sekolah bersama Tina.

Agus menjemputku di depan rumah jam 6 pagi dengan motor miliknya. Itu pagi sekali. Aku masih mengenakan sandal jepit. Katanya, kita harus berangkat pagi karena di sekolah ada halal bi halal. Budaya bersalam-salaman setelah Idul Fitri. Mungkin di sekolahku juga ada budaya itu sehingga aku bisa bertemu lagi dengan Angga.

Setelah selesai mengenakan sepatu, aku dan Agus ke rumah Tina. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Ia sudah berseragam lengkap. Aku bilang pada Tina bawa Agus sudah putus dengan pacarnya. Itu tidak membuatnya terkejut. Malah ia tertawa. “Tuh, kan.”

Bukannya mendapat belaan, Agus justru dapat ejekan dari Tina. Itu memang pantas ia dapatkan. Dan itu berhasil membuatnya kesal. Setidaknya ejekan itu bukan dari mulutku. Aku bukan orang yang suka melihat orang lain kesal.

Ternyata benar. Hari pertama sekolah akan ada halal bi halal. Semua orang di kelasku membicarakannya. Bel berbunyi dan semua berkumpul di lapangan buat upacara bendera. Ini adalah Senin pagi. Aku tak sabar menanti upacara bendera selesai. Aku menanti halal bi halal yang segera dilaksanakan.

Ketika upacara bendera selesai, secara berurutan dari barisan terdepan, orang-orang berbaris membentuk barisan memanjang seperti ular. Sebentar lagi giliranku untuk berjalan bergabung dengan ular itu. Dengan penuh senyum, aku menyalami guru-guru yang belum kukenal. Semoga tidak ada guru killer di antara mereka.

Selanjutnya aku menyalami siswa-siswi yang telah berhenti dan berbaris di pinggir lapangan. Aku memperhatikan orang-orang itu. Aku berharap dapat menemukan Angga. Aku tetap fokus pada orang-orang yang kusalami. Banyak sekali siswa di sini. Banyak yang kusalami, namun Angga belum juga kutemukan. Aku berhenti dan berdiri di barisanku. Orang-orang berjalan dan menyalamiku. Mungkin Angga berada di antara mereka. Kuperhatikan kerumunan dan kucari dimana Angga berada. Belum ketemu juga. Sudah banyak orang yang kusalami. Mungkin Angga ada di barisan terakhir. Aku masih semangat untuk menunggunya.

Para guru mulai bubar karena mereka sudah bersalaman dengan siswa terakhir. Dilanjutkan dengan siswa-siswi yang tadi berada di barisan terdepan. Orang-orang di sekitarku langsung bubar sebelum menyalami siswa terakhir. Aku masih setia di sini. Mungkin aku telah melewatkan Angga. Kerumunan di lapangan mulai membubarkan diri, kembali ke kelas masing-masing. Mataku masih mengintai, mencari keberadaan Angga.

Tidak ada gunanya. Lapangan mulai sepi. Aku kembali ke kelasku. Kelasku berada di lantai dua. Aku menaiki tangga yang sudah sepi dari kerumunan yang sebelumnya berjubel. Dengan wajah kecewa, aku datang ke kelasku. Teman-temanku sudah ada di sana. Beberapa sudah ada buku di meja mereka. Sementara meja yang lain dihiasi dengan makanan ringan dari kantin.

Aku duduk di bangku nomor dua dari depan. Bangku yang kupilih ini dekat dengan meja guru. Sebenarnya aku memilih untuk duduk di bangku paling depan, karena fakta menunjukkan rangking sepuluh besar diduduki oleh siswa-siswi dengan bangku paling depan. Itu yang ibuku percayai.

Aku bosan duduk. Jadi aku memutuskan untuk berdiri. Aku melihat jendela. Di bawah aku melihat beberapa siswa berdiri di lapangan. Itu membuatku tertarik untuk melihat lebih dekat ke jendela dan mulai memeriksa. Aku melihat Angga ada di sana.

Tak lama seorang guru datang. Makanan ringan di meja seketika hilang bersembunyi di bawah bangku. Lelaki tua itu menaruh tasnya di meja, lalu memberi salam. Setelah itu ia menulis namanya di papan tulis.

“Kalian bisa memanggil saya, Pak Tohir”

Pak Tohir menjadi Wali kelas kami. Ia mengajar matematika di sekolah. Setelah perkenalan, Pak Tohir mulai mengajar matematika di kelas. Sungguh membosankan. Kira-kira, apa yang dilakukan Angga di sana. Spekulasiku mengatakan bahwa ia dihukum karena tidak ikut upacara. Kasihan sekali dia. Matahari membuatnya mengerutkan mata. Terpantul kilauan dari kaca matanya.

Mungkin ketika jam istirahat nanti aku bisa menghampirinya di lapangan. Lalu menyapa dia. Itu saja. Bila sempat, mungkin aku bisa meminta nomor hapenya. Ah, kurasa tidak. Sapaan sudah cukup. Jadi nggak sabar buat mengakhiri matematika yang sangat membosankan.

“Hai”. Itu yang akan kusampaikan padanya. Mungkin ia akan tersenyum mendengar sapaanku. Perlukah aku menyalaminya? Kurasa tidak. Munkin aku perlu berkenalan dengannya. Atau tidak. Aku sudah tahu namanya. Dia ingat denganku nggak ya?

“Kamu masih ingat denganku?” Aku akan menanyakan itu nanti. Mungkin itu akan menjadi kesan yang sok kenal. Tidak jadi ah. Cukup sapaan saja.

Bel berbunyi. Saatnya istirahat. Tanpa memeriksa jendela, aku langsung turun menuju lapangan. Aku berjalan melewati tangga yang ramai dengan kerumunan orang menuju kantin. Kucurahkan usahaku berdesak-desakan demi mengucap sapa kepada Angga.

Aku berhasil melewati tangga. Aku berjalan menuju lapangan. Ketika tiba di sana, aku tidak melihat siapa-siapa. Angga tidak ada. Aku berjalan ke tempat Angga tadi berdiri. Aku terdiam di sana, menatap jendela kelasku di atas.

baca selanjutnya

Komentar

Postingan Populer