Tempat yang Menyeramkan
Banyak yang bilang sekolah adalah tempat yang menyeramkan. Sekolah atau penjara. Permikiran itu pasti keluar dari orang yang benci dengan sekolah. Orang yang takut dengan tugas dan PR. Orang yang takut dengan pelajaran sulit membakar otak. Atau orang yang benci dengan segala kewajiban yang membosankan. Tentu aku bukan pengecut seperti mereka. Aku adalah orang berani menghadapi hal seperti itu. Aku bukan anak pintar, tapi aku juga bukan siswa yang bodoh. Aku jarang belajar. Tapi entah keajaiban mana, nilai raporku selalu menakjubkan. Bahkan aku selalu mendapat peringkat sepuluh besar. Sesekali aku pernah menduduki rangking tiga. Wow. Beruntung sekali aku. Walau begitu, ada sesuatu yang aku takuti di sekolah. Sesuatu yang sangat menyeramkan. Tony pernah berkata padaku.
“Apa kau pernah datang ke sana?”
Suatu tempat yang membuat pikiranku berantakan. Tempat yang ingin aku lupakan. Segala ketakutanku berkumpul di sana. Aku tidak pernah datang di tempat itu. Aku juga tidak mau ke sana.
“Kau harus ke sana. Aku akan mengantarmu”
Tony adalah anak yang cerdas. Ia selalu berada di rangking satu. Semua siswa di kelas iri dengan dia. Ketampanannya membuat semua siswi di sekolah mengidolakannya.
“Aku tidak akan ke sana”
Apa kamu pernah mendengar cerita seram di sekolah? Hampir semua cerita yang aku dengar adalah, sekolah ini bekas makam yang angker. Aku menderar cerita itu dari SD, SMP, dan yang terakhir Tony bercerita hal yang sama. Aku tidak percaya semua omong kosong itu. Mana mungkin seseorang sengaja menghancurkan makam untuk membangun sekolahan. Jika kuburan itu memang ada, mereka pasti memilih tempat yang lebih layak. Jika kuburan itu memang angker, sekolah pasti sudah tutup karena dihantui mahkluk halus. Tapi, mungkin para guru killers itu adalah utusan mahkluk halus.
“Kenapa kamu memaksa?” aku bertanya kepada Tony.
“Kau harus menghadapi ketakutanmu”
“Kau tidak menjawab pertanyaanku”
“Itu jawabanku”
Bel istirahat berbunyi. Semua orang berhamburan keluar kelas. Kecuali aku dan Tony. Dia menatapku dengan ekspresi datar. Aku hanya diam melihat dia berperilaku seperti itu. Dengan segera, ia bangun dari duduknya lalu berjalan menuju pojok ruangan. Tempat dimana lukisan Raden Ajeng Kartini terpajang dengan tulisan ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ di bawahnya. Di samping, terdapat jendela yang mengarah ke lapangan sekolah. Tony memandang sesuatu melalui jendela.
“Dimas” Ia memanggilku.
“Apa?”
“Sini... Aku mau kamu melihat ini”
Aku bangun dari kursi. Berdiri menghadap Tony. Berjalan menuju jendela itu. Suara sepatuku terdengar keras sekali. Seperti petasan di tahun baru. Tidak ada siapa-siapa di kelas selain aku dan Tony.
Aku melihat ke luar jendela. Tidak ada yang spesial di sana. Segalanya tampak seperti biasa. Di bawah aku melihat lapangan yang biasa digunakan untuk upacara di senin pagi. Di depan aku melihat kantor kepala sekolah, ruang tata usaha, kantin, dan satu tempat yang sangat aku takuti.
“Lihat ke atas!” Tony berbisik dengan lembut di telinga kananku.
Kudangakkan kepalaku dan melihat sebuah mahakarya alam yang menakjubkan. Sebuah pelangi sempurna dengan tujuh warna.
“Indah, bukan?” Tony menaruh tangannya di pundakku.
Aku masih memandang pelangi di langit. Di bawahnya terdapat sebuah bukit hijau yang penuh dengan pepohonan. Aku pernah ke puncak bukit itu. Saat itu aku masih kelas sepuluh. Aku ke sana bersama teman-temanku dan satu guru pembimbing. Itu adalah masa orientasi sekolah. Aku merasa bahwa Masa Orientasi Siswa itu artinya masa dipermalukan kaka kelas. Tidak ada gunanya. Tapi, aku tidak akan melupakan masa yang konyol itu. Berdandan seperti idiot, bermain seperti orang bodoh. Aku ingat saat itu adalah bulan puasa. Kita semua kelelahan setelah naik turun bukit. Aku duduk lemas bersandar di dinding. Napasku tak beraturan. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berkata kepadaku.
“Apa kau lapar?”
Kuangkat kepalaku dan aku melihat seorang bocah laki-laki berdiri di depanku. Kurasa anak itu sangat tinggi. Tapi setelah aku berdiri, dia tak jauh berbeda denganku.
“Ya”
“Mau ikut denganku?”
Sebagai anak yang baik, tentu aku tahu maksud bocah itu. Sebagai anak yang baik, seharusnya aku menolak ajakannya.
“Ayo”
“Sini, lewat belakang”
Kami berjalan menyusuri lorong sekolah. Berjalan dengan hati-hati. Tatap tenang. Sampai, teman baruku ini menghentikan perjalanannya. Ada dua siswa osis di depan sana. Yang satu perempuan, duduk di bangku sambil memegang buku. Yang satunya lagi laki-laki, berdiri di depannya sambil bicara sesuatu. Aku tidak mendengar apa yang ia bicarakan. Kuharap mereka tidak melihat aku dan temanku.
“Lewat sini saja” kata temanku.
Akhirnya aku sampai di pintu keluar. Tapi masih ada satu rintangan di sana. Seorang satpam duduk di pos jaga. Tapi saat itu aku beruntung. Satpam itu tertidur ngorok dengan headset di kepalanya. Kami bisa berjalan menyelinap keluar dan menuju warung terdekat.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat di dalam warung kakak-kakak osis makan dengan lahap. Bahkan diantara mereka ada yang merokok. Tentu kami mendapat omelan dari mereka. Kurasa temanku ini telah memilih warung yang salah. Salah satu kakak osis mengantar kami kembali ke kelas.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat di dalam warung kakak-kakak osis makan dengan lahap. Bahkan diantara mereka ada yang merokok. Tentu kami mendapat omelan dari mereka. Kurasa temanku ini telah memilih warung yang salah. Salah satu kakak osis mengantar kami kembali ke kelas.
Sesampainya di kelas, aku dan temanku disuruh berdiri di depan papan tulis. Suasana kelas ramai sekali. Semua anak meyoraki kami berdua.
“Diam...” kata kakak osis yang judes sekali. Seketika kelas menjadi tenang.
“Kalian lapar?” tanya kakak osis.
Seketika seluruh siswa teriak “Lapar...”
“Kalian haus?”
“Haus”
“Kita semua puasa. Kita lapar. Kita haus. Tapi kedua teman kalian ini, malah keluar dari sekolah. Makan di warung”
Seketika seluruh siswa teriak “Huuu....”
Ya Tuhan! Aku baru saja difitnah. Aku hanya masuk ke warung. Itu saja.
“Jadi, hukuman apa yang cocok untuk mereka?” tanya kakak osis.
Suasana kelas menjadi hening. Ada yang berbisik. Ada yang berdiskusi. Bingung memilih hukuman untuk para pendosa seperti kami berdua. Seseorang berkata ‘Nyanyi’. Seseorang berkata ‘joget’. Seseorang berkata ‘baca puisi’. Seseorang berkata ‘senam’. Tapi itu semua tidak menarik perhatian kakak osis. Sampai suatu saat, salah satu siswa berkata “Suruh mereka jadian aja”
Suasana kelas menjadi hening. Ada yang berbisik. Ada yang berdiskusi. Bingung memilih hukuman untuk para pendosa seperti kami berdua. Seseorang berkata ‘Nyanyi’. Seseorang berkata ‘joget’. Seseorang berkata ‘baca puisi’. Seseorang berkata ‘senam’. Tapi itu semua tidak menarik perhatian kakak osis. Sampai suatu saat, salah satu siswa berkata “Suruh mereka jadian aja”
Semuanya langsung tertawa mendengar kalimat itu. Kami, para terdakwa hanya tersenyum malu.
Tentu saja kami menolak. Tapi kakak osis dan teman-teman sekelas terus memaksa. Setelah sekian penolakan dan sekian paksaan, akhirnya temanku satu ini memberanikan diri untuk bicara.
Tentu saja kami menolak. Tapi kakak osis dan teman-teman sekelas terus memaksa. Setelah sekian penolakan dan sekian paksaan, akhirnya temanku satu ini memberanikan diri untuk bicara.
“Hai, namaku Tony. Tony Saputra. Nama kamu siapa?” dia berkata dengan penuh canda dan senyum lebar di wajahnya.
“Ciye...” teriak siswa-siswi, para saksi.
“Aku Dimas” setiap kami berkata, semua orang teriak ‘ciye’
“Kamu mau gak jadi pacarku?”
Aku melihat ke arah teman-teman. Mereka tertawa bahagia sekali melihat temannya dipermalukan. Aku tersenyum lebar dan kutaruh kedua tanganku di saku celanaku.
Itu adalah pilihan yang mudah. Aku hanya tinggal bilang ‘tidak’. Tapi entah kenapa, itu sulit sekali. Akhirnya aku mengatakannya.
“Tidak”
Ada yang teriak ‘yah’ ada yang berteriak ‘hu...’
“Kita sama-sama laki-laki. Lagipula aku sudah punya pacar”
“Aku mau kamu ke sana” Tony mengarahkan telunjuknya ke tempat yang paling aku takuti.
“Kenapa kamu selalu memaksaku?”
“Kemarin aku ke sana. Dia tahu. Dia mau kau ke sana”
To be continued
Baca part 2

Komentar
Posting Komentar