Tempat yang menyeramkan Part 2

Saat ini anda membaca lanjutan. Baca part1
Seperti apa tempat yang aku bicarakan ini? Apakah ini tempat berhantu? Apa yang membuat aku begitu takut dengan tempat ini? Setiap orang punya ketakutan masing-masing. Begitu juga dengan aku. Saat masih kecil, aku sangat takut disunat. Bahkan, mendengar orang berkata ‘sunat’ membuat jantungku berdetak keras. Kurasa ketakutanku ini terjadi karena ibuku selalu menakutiku saat masih kecil. Itu membuatku trauma.
“Kalau kamu nakal terus, kamu disunat”
Namanya juga anak kecil. Ketakutan itu tetap ada. Sampai suatu hari, aku memberanikan diri untuk sunat. Saat itu aku duduk di bangku kelas 7 SMP. Tapi aku tidak melakukan pemotongan burung di atas bangku.
“Kenapa kamu selalu memaksaku?”
“Kemarin aku ke sana. Dia tahu. Dia mau kau ke sana”
Aku kaget mendengar Tony bilang begitu. Itu berarti, aku harus ke tempat itu. Tempat yang paling kutakuti. Berat rasanya untuk menolak. Aku tidak mau menerima konsekuensinya. Aku harus ke sana. Di sisi lain aku tidak ingin ke sana.
“Ayo, dia juga memanggilku. Kita ke sana sama-sama”
Aku mengangguk. Temanku ini keluar dari kelas. Aku mengikutinya dari belakang. Selama perjalanan, aku sangat ketakutan. Tanganku gemetar. Aku merasakan keringat dingin mengucur keluar dari kulitku dan membasahi wajahku. Sesekali Tony menoleh ke belakang. Memastikan aku tetap mengikutinya. Kami menuruni tangga menuju lantai paling bawah. Menyusuri lorong yang gelap. Dari sana aku melihat beberapa anak berdiri di lapangan. Berdiri tegak menghadap bendera. Mereka pasti dihukum karena bolos waktu pelajaran.
“Kita sudah sampai” bisik Tony.
Ini adalah tempat yang aku takuti. Sebuah ruangan dengan sofa yang nyaman, fas bunga yang indah, buku-buku tertata rapi, dan pengharum ruangan yang beraroma khas. Di atas pintu terpasang papan bertulis “Ruang Bimbingan Konseling”.
Sama seperti sunat, ketakutanku terhadap ruangan ini berawal dari trauma. Berat bagiku untuk menceritakannya. Ketika aku masih duduk di kelas 11, aku sangat aktif di ekstrakurikuler. Salah satunya adalah ekstrakurikuler majalah sekolah. Aku sangat suka menulis. Suatu hari, aku tertarik untuk menulis kritikan tentang guru di sekolah. Artikel itu juga berisi sisi buruk sekolah. Sebenarnya aku sudah melakukan refisi. Tapi yang beredar justru artikel yang salah. Semua warga sekolah terlanjur menerima majalah. Nasi sudah menjadi bubur. Bapak dan ibu guru marah besar. Mereka merasa dipermalukan. Aku dipanggil ke ruang BK. Di sana aku bertemu dengan guru paling ditakuti di sekolah. Namanhya Bu Tutik. Tapi kami sering menyebutnya bu judes. Ia memarahiku tanpa ampun. Ocehannya terdengar sampai ke kelas tetangga. Aku hanya menunduk tak berdaya. Bukan cuma itu hukumannya. Aku harus berdiri menghadap bendera selama istirahat. Memalukan sekali. Semoga aku dapat melupakannya.
Aku hanya berdiri di depan pintu.
“Ayo, masuk” ajak Tony.
Aku melihat bu Tutik duduk di sana. Meminum secangkir teh sambil menyilangkan kakinya. Kacamatanya berkilau ketika melirik ke arahku. Menyeramkan sekali.
“Silahkan duduk” Ia menaruh tehnya di meja.
Sofa ini sangat empuk. Tapi ketakutan ini mengubahnya menjadi kursi listrik. Sangat menakutkan.
“Sebelumnya, Ibu mau Tony keluar sebentar” kata bu Tutik.
Tony keluar meninggalkanku di sini bersama sang pemarah. Aku tidak berani menatap matanya.
“Kamu masih aktif di ekstrakurikuler?” kata bu Tutik.
Aku takut ia menyinggung trauma lamaku.
“Tidak. Di kelas 12, harus fokus ujian”
“Bagus”
“Tapi aku masih membantu adik kelas”
“Benar. Mereka butuh bimbinganmu”
Bu Tutik terdiam dan memandangiku beberapa saat sebelum ia meluruskan kakinya lalu berkata “Kamu tahu kenapa kamu ada di sini?”
“Tidak. Aku tidak tahu”
“Kalau begitu Tony tidak memberitahu kamu”
Aku penasaran, apa yang membuatku dipanggil ke sini. Aku tidak ada masalah apa pun saat ini.
“Bagaimana hubunganmu dengan Tony?”
“Baik. Sama sekali aku tidak punya masalah dengannya” Mungkin Tony benar. Dia sudah tahu.
“Aku tahu kamu dekat dengan dia”
“Kami berteman. Tentu saja aku dekat”
“Aku tahu kalian lebih dari itu”
“Apa?” Aku kaget mendengar kata bu Tutik.
“Tony sudah bercerita. Sekarang ceritakan padaku”
“Apa?”
“Mengapa kamu begini, Dimas”
“Apa maksud ibu?” Apa benar bu Tutik sudah tahu?
“Kemarin, Tony bilang kamu adalah kekasihnya. Apa itu benar?”
Aku bingung apa yang harus aku katakan. Aku bingung kenapa Tony bercerita kepada bu Tutik. Aku hanya diam menundukkan kepala sebelum menjawab “Iya”
“Kenapa kamu jadi gay?”
“Aku tidak tahu. Aku juga tidak mau”
“Lalu kenapa kamu berpacaran dengan sesama jenis?”
“Aku tidak pernah tertarik dengan lawan jenis”
“Sejak kapan kamu sadar?”
“Ketika masih SMP, temanku menunjukkan gambar terlarang. Ibu tahu maksudku. Temanku sangat menyukainya. Aku pura-pura menyukainya. Tapi sebenarnya aku jijik. Aku lebih suka melihat laki-laki”
“Kenapa kamu tidak coba berpacaran dengan perempuan? Mungkin itu bisa membantu”
“Sudah pernah. Saat itu aku masih kelas 10. Aku tidak menikmatinya”
“Kenapa?”
“Kadang aku merasa risih ketika dia memegang tanganku atau merangkul pundakku”
“Lalu bagaimana dengan Tony?”
“Aku merasa nyaman ketia ia di dekatku”
“Apa kamu bahagia dengannya?”
“Iya”
Bu Tutik bangun dari sofa lalu berjalan menuju sebuah lukisan pahlawan di dinding. Ia memandangi lukisan itu.
“Saya tidak mempermasalahkan orientasi seksual kamu. Sebenarnya bukan itu alasan kamu ada di sini” Kata bu Tutik.
“Ada hal penting yang perlu kamu tahu. Mungkin ini sedikit berat bagimu” ia menoleh ke arahku.
“Apa maksud ibu?” aku benar-benar tak mengerti apa yang ia bicarakan.
Bu Tutik duduk kembali di sofa. Ia menatap ke arahku sambil memainkan jemarinya di atas lutut. Apa yang sebenarnya ia pikirkan.
“Kalian sudah kelas 12. Setelah lulus kamu mau kemana?” Ia bertanya.
“Aku dan Tony berjanji untuk tetap bersama. Kami akan meneruskan kuliah di UM” jawabku.
Bu Tutik memperlihatkan wajahnya yang muram. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa yang empuk dan nyaman.
“Itu adalah cita-cita yang bagus. Saya mendukungmu” Ia memalingkan pandangannya dari wajahku. “Kurasa Tony tidak bisa menemanimu di sana”
Aku terkejut mendengar ucapan Bu Tutik. “Kenapa ibu bilang begitu?”
“Aku tahu mungkin ini sulit. Tony tak berani bicara langsung padamu. Tony akan bergabung di militer. Itu keinginannya”
Hatiku hancur mendengarnya. Aku tak percaya Tony mengingkari janjinya sendiri. Janji yang selalu ia teriakkan di setiap panggilan telefonku. Janji yang selalu ia bisikkan di telingaku. Janji yang selalu ia tulis di sampul bukunya. “Pokoknya kita harus tetap bersama” begitu bunyi janjinya. Kini semua itu terasa basi. Busuk bagai roti yang sudah berjamur. Tega sekali Tony meninggalkanku. Aku sangat kecewa.
Aku keluar dari ruang BK dengan ekspresi muram. Aku tak tahan dengan kelakuan Tony. Aku marah.
Tony duduk di sana. Aku pura-pura tidak melihatnya. Aku terus berjalan melewatinya. Ia berdiri lalu mengikutiku. Aku terus berlari mengabaikan Tony mengejar di belakangku.
Sesampainya di kelas, aku melihat sudah banyak anak di sana. Aku segera lari menuju ke bangkuku. Aku duduk di sana. Aku menundukkan kepalaku agar semua tidak melihat air mataku. Agar Tony tidak melihat tangisku.
Tony datang lalu duduk di sampingku. Aku tetap menunduk. Aku tidak mau melihat wajahnya. Dia hanya diam. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Ia mengambil tisu di kantongnya lalu menghapus air mataku.  Kutangkis tangannya.
“Maafkan aku” Cuma itu yang ia ucapkan.
“Kenapa kamu melakukan ini?”

Komentar

Postingan Populer