Bangunkan Aku dari Insomnia. 02/03

Saat ini Anda membaca part 2. Baca sebelumnya.

Aku harus berjalan turun ke lantai satu buat mandi. Kamar mandi di lantai dua sedang digunakan, sementara kamar mandi di lantai tiga sedang dalam perbaikan.

Aku masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Dingin air mengguyur tubuhku. Membuat seluruh kepenatan di hari ini luntur bersama keringat dan debu di tubuhku. Aku melihat beberapa helai rambut mengalir di tubuhku, jatuh bersama air di lubang saluran air. Mereka berputar seperti pusaran tornado.

Aku mendengar orang mengetuk pintu. Aku mengambil handuk buat mengeringkan tubuhku. Suara ketukan itu datang lagi. Aku menyalakan keran air untuk memberi isyarat bahwa di dalam masih ada orang.

Tubuhku sudah kering. Aku membuka kunci. Aku membuka pintu. Kulihat tidak ada siapa-siapa di luar.

Aku berjalan menaiki tangga. Di tengah jalan, seorang lelaki berkacamata berpapasan denganku. Ia berjalan melewati aku. Tubuh lelaki itu dilapisi lemak tipis. Ia selalu mengenakan kacamata. Bila tidak, matanya akan bersembunyi di balik kelopak mata yang sipit. Dia membawa gayung dan handuk. Pasti dia yang tadi mengetuk pintu. Kamarnya tepat di samping kamarku. Sudah dua minggu ia tinggal di sana. Tapi aku belum tahu namanya.

Aku kembali ke kamarku. Tak lupa aku mengunci pintu. Aku membereskan tempat tidur lalu mencari baju buat tidur. Aku memilih baju hitam dan celana biru. Sebenarnya aku tidak memilih. Cuma itu pakaian yang tersisa di lemari. Yang lain belum dicuci. Mungkin besok aku juga harus pergi ke laundry.

Kubanting tubuhku ke ranjang lalu kuambil handphone di dalam tas. Aku mencari hiburan dari hape. Aku memilih YouTube. Beberapa video lucu dapat mempercepat waktu. Selanjutnya aku memilih buku sebagai hiburan pelepasan kepenatan setelah seharian bekerja. Kuraih buku di atas meja. Judulnya adalah 'Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?'. Sebuah buku kumpulan cerpen karya Hamsad Rangkuti.

Setelah beberapa cerpen, aku melihat jam dinding dan aku sadar hiburan berjalan lama. Sudah jam sepuluh. Aku harus segera tidur.

Kukatakan lampu dan kuambil selimut. Kutaruh tubuhku di pinggir kasur, menempel di dinding. Tempat paling nyaman di kamar.

Sebentar lagi aku bakal terbang ke alam mimpi. Jadi aku harus mencari posisi paling nyaman lalu menutup mata. Melemaskan otot tubuhku.

Lima belas menit sudah berlalu, dan aku masih terjaga. Aku mencoba mencari posisi lain yang lebih nyaman. Membalikkan badan dan membetulkan bantal.

Itu tidak berhasil. Aku masih belum bisa tidur. Apa yang harus kulakukan. Aku kembali ke posisi semula, tapi dengan bantal dilipat. Aku membuat posisi senyaman mungkin.

Waktu terus berjalan, dan aku aku belum berhasil. Aku belum sampai ke alam mimpi. Aku melihat ke arah jam. Aku tak tahu sudah jam berapa. Kamarku sudah gelap. Lebih baik aku tidak tahu. Kalau aku tahu, nanti aku bakal pusing mengetahui hari sudah malam. Aku mencoba kembali untuk tidur.

Aku memejamkan mata, menunggu mimpi menjemputku. Waktu terus berlalu dan aku masih merasakan gatal di kakiku. Tetap saja aku tidak bisa tidur. Sungguh menjengkelkan. Kenapa ini terjadi? Aku tidak ingat tadi aku minum kopi. Yang kuminum hanya es jeruk. Tentu itu tidak berpengaruh pada kesulitanku untuk tidur.

Mungkin aku harus memasang alarm biar besok aku bisa bangun pagi. Aku meraih hape di meja lalu menyalakannya. Betapa terkejutnya diriku ketika melihat jam di hapeku sudah menunjukkan pukul 12. Aku segera memasang alarm buat besok pagi. Lalu aku kembali ke kasur, memejamkan mata dan mencari posisi nyaman.

Sempat terpikir bagaimana jika besok aku bangun kesiangan. Semua akan jadi berantakan. Aku tidak mau itu terjadi. Jadi aku harus menutup mata, mencari posisi yang nyaman.

Bagaimana jika ketika alarm berbunyi, aku tetap tertidur? Bagaimana jika aku tertidur lagi setelah mematikan alarm? Bagaimana jika aku tidak bangun?

Aku harus bangun pagi besok. Untuk itu aku harus berusaha bangun dari kasur. Aku meraih hape dan menaruhnya di atas lemari. Mungkin cara itu bisa membantuku bangun.

Aku kembali ke tempat tidur. Aku memejamkan mata, mencari posisi yang nyaman. Semoga kali ini aku berhasil.

Tapi tidak. Aku masih merasakan gatal di kepalaku. Mimpi belum muncul. Mungkin masturbasi dapat membantuku meraih mimpi. Aku mengambil tisu di meja lalu memulai ritual pencapai mimpi.

Itu berhasil membuat seluruh otot tubuhku lemas. Tenang ragaku dalam posisi nyaman dengan bantal di kepala, selimut di tubuh, dan guling di selangkangan. Dalam mimpi aku menghitung domba yang melompat di atas tubuhku. Satu..., dua..., tiga..., empat... . Aku tidak tahu ini hitungan ke berapa. Yang kutahu, domba itu terlihat empuk seperti bantal dan gulingku.

Baca Selanjutnya.


Baca Sebelumnya.


Komentar

Postingan Populer