Bangunkan Aku dari Insomnia. 03 / 03

Baca bagian pertama.
Baca sebelumnya.

Alarm berbunyi. Ia berhasil membangunkanku di pagi hari. Aku berdiri mengambil hapeku di atas lemari, lalu mematikannya. Aku tidak boleh kembali ke kasur. Aku tidak mau tidur lagi. Mungkin jika aku tidak menaruhnya di atas lemari, aku akan kembali ke kasur.

Kuambil handuk dan perlengkapan mandi. Aku turun ke bawah buat mandi karena kamar mandi di lantai dua masih digunakan. Ternyata kamar mandi bawah juga digunakan. Pintunya tertutup dan terdengar suara guyuran air dari dalam. Aku duduk menunggu. Suara air sudah mulai hilang. Aku masih menunggu. Sudah lima menit berlalu dan orang di dalam belum keluar. Aku mengetuk pintu. Aku mendengar keran air menyala. Mungkin kamar mandi di lantai dua sudah kosong. Aku naik tangga menuju lantai dua. Ternyata masih ada orang mandi di sana. Terdengar jelas suara guyuran air bersama nyanyian fals dari orang di dalam.

Aku memutuskan untuk kembali turun. Aku kembali mengetuk pintu. Tidak terdengar apa-apa dari dalam. Tidak ada suara keran, suara guyuran air, atau suara nyanyian. Aku memutar gagang pintu dan mendorongnya. Kulihat tidak ada siapa-siapa di dalam.

Aku menggantung handuk dan mulai mandi. Kubersihkan tubuhku dari keringat tadi malam. Kubasahi tubuhku dengan air pagi yang dingin.

Setelah selesai mandi, aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Kubuka pintu kamar, lalu aku masuk dan kututup kembali pintunya.

Betapa terkejutnya diriku ketika aku menemukan seseorang tidur pulas dalam selimut di kasurku. Ia tidur pulas sekali sampai aku mendengar suara dengkurannya. Ia tidur dalam keadaan tengkurap dengan guling di pelukannya. Aku tidak melihat wajahnya.

Aku mendekat kugapai pundaknya yang dingin. Kutarik tubuhnya dan kulihat wajahnya. Aku terkejut mengetahui yang kulihat itu adalah diriku sendiri. Aku masih tertidur dalam mimpiku. Aku harus membangunkannya. Aku tidak boleh terlambat kerja.

Kuguncang tubuhnya, namun ia tidak kunjung bangun.

"Ayo...! Bangun...! Bangun! Cepat bangun!"

Kubuka paksa matanya, tak bangun juga. Kuambil kedua kakinya dan kuseret tubuhnya. Tubuhnya jatuh ke lantai. Aku kembali mengguncang tubuhnya.

"CEPAT BANGUN! DASAR PEMALAS"

Aku terus berusaha membuat dia bangun. Kulihat ada sebuah botol air mineral di meja. Kugapai dan kubuka tutupnya. Kusiram seluruh air itu ke wajahnya. Ia tetap tertidur dalam dengkuran.

"Cepat Bangun!"

Mungkin aku harus mencoba cara yang lebih ekstrim. Kubuka pintu, lalu kuseret tubuhnya. Aku membawanya keluar pintu. Tubuhnya berat sekali. Di luar, berdiri lelaki gendut berkacamata. Ia melihatku menyeret tubuhku.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya dia.

"Dia tidak mau bangun" jawabku.

"Biar aku bantu" Lelaki itu mengambil salah satu kaki yang tergeletak di lantai, lalu menyeretnya.

Kami berdua menyeret tubuh itu ke ruang terbuka. Di sana ada pagar tempat biasa kami menjemur pakaian. Aku menyeret tubuh itu ke sana. Dia masih tertidur dan mendengkur.

Kami mengangkatnya lalu menaruhnya di atas pagar seperti jemuran.

"Dalam hitungan ke tiga, kita dorong dorong" Kata lelaki gendut itu.

"Satu..., dua..., tiga." Kami berdua mendorong tubuh itu.

Bruakk... . Dia jatuh ke bawah dengan kaki duluan. Ia sempat terguling ke aspal. Ia tetap terdiam di sana. Aku melihatnya dari atas.

"Namaku Jeffrey. Siapa namamu?" Tanya lelaki di sampingku.

"Aku Harris. Senang bisa berkenalan denganmu" Aku tersenyum memberi jabatan tangan.

"Apa menurutmu dia sudah mati?" tanyaku.

"Kurasa tidak. Tempat ini tidak cukup tinggi buat membunuhmu. Lagian, apa kamu sudah siap mati?"

"Tidak. Aku belum mau mati"

"Kenapa?"

"Karena aku telah mengenalmu"

"Jadi, kamu mau jadi temanku?"

"Kenapa tidak?"

Kubuka mataku dan aku merangkak dengan tanganku. Kurasa kakiku sudah patah. Kugapai tiang lampu di pinggir jalan. Aku memanjatnya buat berdiri. Aku berdiri dengan satu kaki. Leherku sakit sekali. Tapi kupaksakan untuk mendangak ke atas. Aku melihat diriku sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki gendut. Aku melihat mereka dengan tatapan marah.

Kakiku tidak kuat lagi menahan tubuhku. Aku terjatuh di samping tiang lampu itu. Kupeluk tiang itu. Aku memeluknya sebelum aku sadar, yang kupeluk ini adalah lemari.

Aku terbangun dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8. Astaga! Aku bangun kesiangan. Aku tidak punya waktu buat mandi. Aku langsung berdiri membuka lemari, mencari baju buat kerja. Tidak ada. Aku lupa semua bajuku masih kotor. Aku mengambil baju kemarin lalu segera mengenakannya.

Kuambil tas lalu aku keluar kamar. Kututup pintunya lalu kuputar kuncinya dua kali. Aku berlari ke tangga lalu menuruninya. Karena terburu-buru, aku menabrak seseorang di sana. Dia jatuh dari tangga dan tersungkur di lantai bawah. Dia tetap terdiam. Aku takut dia mati. Kudekati orang itu.

"Kau tidak apa-apa, Jefrrey?"

Lelaki itu menggapai pagar tangga lalu memanjatnya buat berdiri. "Bagaimana kamu tahu namaku?"

"Aku tidak tahu. Maaf kan aku. Aku menyesal. Aku sedang terburu-buru. Aku terlambat kerja"

"Tidak apa. Aku gapapa kok"

Aku melihat darah mengalir dari kepalanya. Mengalir melalui keningnya, lalu mengotori kacamatanya, dan jatuh ke lantai. Tangan Jeffrey mencegah darah itu jatuh lebih banyak ke lantai.

"Kita ke atas. Aku punya P3K di kamar" Kataku.

Aku menuntunnya menaiki tangga. Darahnya mengucur mengotori lantai. Aku membantunya berjalan menuju kamarku. Kuambil kunci dari saku dan kubuka pintu. Aku melihat Jeffrey lemas sekali. Wajahnya mulai pucat. "Kenapa kamarmu berantakan sekali?" ia berkata dengan lemas.

"Maafkan aku"

Kuarahkan dia untuk duduk di kasur. Aku mencari handuk di lemari. Di bawah masih ada handuk yang masih bersih. Handuk kecil yang hanya kugunakan buat berenang.

Kulepas kacamatanya dari wajahnya. Aku mencoba membersihkan kepalanya dari darah. Tapi darah itu tetap mengalir. Aku takut sekali. Apa yang harus kulakukan?

Dia cuma diam sambil meringis kesakitan. Aku mengambil kapas dan kain kasa. Mungkin aku bisa mencegah darah keluar dengan membalut kepalanya. Kutaruh kapas di tempat darah itu keluar. Lalu aku mengikat kepalanya dengan kain kasa.

Kubersihkan sisa darah yang membuat wajahnya berwarna merah. Darah sudah berhenti mengalir. Aku mulai tenang.

Jeffrey duduk dengan baju berlumuran darah. Ya ampun, aku seperti baru melakukan pembunuhan.

"Maaf, aku telah merepotkanmu dan mengotori kasurmu" kata Jeffrey.

"Tidak. Aku yang salah. Maafkan aku"

"Bukannya kamu harus bekerja sekarang?" tanya dia.

"Siapa yang peduli dengan pekerjaan. Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Mungkin sebentar lagi aku mau keluar dari pekerjaanku"

"Kenapa?" tanya Jeffrey.

"Karena ada kamu di kasurku" jawabku dalam hati.







~~~~Terima Kasih Sudah Membaca Sampai Sini~~~~




Loading web poll...

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer