Lelaki di Atas Sepeda

Basah wajahnya dibanjiri keringat yang mengalir seperti embun di gelas es teh. Banyak tetesan keringat itu mengalir melewati kacamatanya. Membuat pandangannya terganggu. Mungkin sudah saatnya istirahat. Ia menepi dan berhenti. Di bawah pohon mangga ia bersandar sambil meneguk air dari botol bergambar Hello Kitty. Ia meminjam botol itu dari anaknya.

Seketika ia ingat dengan putrinya yang sekarang sedang duduk di kelasnya menangkap ilmu yang dilemparkan gurunya, dibagikan hanya untuk anak-anak teladan seperti dia.

Laki-laki itu bukan hanya meminjam botol, tetapi sepeda yang ia kendarai adalah milik putrinya. Sepeda itu tidak bergambar Hello Kitty atau hal lain yang keperempuan-perempuanan. Itu adalah sepeda gunung berwarna hitam yang gagah. Putrinya memilih sepeda itu sendiri. Ia menolak pilihan ayahnya.

Ia menamai putrinya Amel. Nama yang cantik seperti wajahnya. Saat ini Amel sudah kelas 10. Artinya tak lama lagi bapaknya harus lebih rajin menabung buat kuliahnya nanti. Tapi itu bukan masalah besar bagi seorang pekerja ulet seperti dia. Berkat kerja kerasnya di kantor selama hampir sepuluh tahun, kini ia menduduki jabatan tinggi. Ia bisa libur kapan saja. Liburan yang ia pilih saat ini adalah bersepeda keliling kampung.

Pekerjaannya membuat dia jarang keluar rumah dan menjauhkannya dengan tetangga. Itu sebabnya ia memutuskan untuk berkelana mengelilingi kampung yang dulu menjadi tempatnya bermain layang-layang dan kelereng. Persawahan tempat ia menerbangkan layang-layang dulu kini sudah dilapisi semen. Berdiri rumah-rumah di atasnya.

Tadi pagi ia sudah mengendarai mobil mengantar Amel ke sekolah. Itu karena ia berniat untuk meminjam sepedanya. Amel tidak suka diantar bapaknya karena ia tidak mau terlihat kaya karena naik mobil.

Air putih dalam botol itu telah menghilangkan dahaga. Kini saatnya melanjutkan kembali perjalanannya. Ketika itu ia mendengar gemericik air. Ia yakin itu adalah suara air sungai tempat ia bermain dulu. Senyumnya merekah mengantarkan dia ke sumber suara. Ia meninggalkan sepeda.

Suara itu makin terdengar. Ditambah dengan canda tawa sekelompok anak laki-laki, mengingatkannya pada masa kecilnya. Ketika ia berenang bersama teman-teman sepulang sekolah. Saat itu ia masih SD. Ia tidak malu mengumbar kemaluannya di sungai. Masa yang indah di mana ia belum mengenal masalah duniawi.

Suara gemericik air itu mengundangnya untuk mendekat. Dan pemandangan sungai itu mulai terlihat. Empat anak bermain di sana. Sama seperti masa kecilnya dulu. Tapi kini mereka mengenakan celana pendek. Mereka menoleh ke atas menatap lelaki penunggang sepeda itu.

"Saya dulu bermain di sini." Kata sang penunggang sepeda.

Keempat sahabat itu hanya melihat  wajahnya sambil mengerutkan alis karena terik matahari. Mereka terdiam menunggu si penunggang sepeda melanjutkan kalimatnya.

"Apa kalian tidak sekolah?"

Bocah bercelana merah berkata "Tidak."

Senyum si pengendara sepeda pudar mendengar kata bocah bercelana merah. "Kenapa tidak sekolah? Sekolah itu penting untuk masa depan kalian"

Keempat bocah itu saling menatap wajah teman-temannya. Lalu si celana putih berkata "Kami sedang libur semester. Sekolah sedang tutup."


Baca selanjutnya

Komentar

Postingan Populer