Lelaki di Atas Sepedanya. Bagian 2
Baca bagian pertama
Keempat bocah itu saling menatap wajah teman-temannya. Lalu si celana putih berkata "Kami sedang libur semester. Sekolah sedang tutup."
Mendengar kalimat yang keluar dari si celana putih, laki-laki itu terkejut. Ia mengerutkan kening dan memudar senyumnya lalu berkata "Tidak mungkin. Tadi saya mengantarkan anak saya sekolah"
Kumpulan bocah itu hanya terdiam. Si celana merah melanjutkan aktifitas berenang. Lalu dilanjutkan dengan si celana biru. Lalu si celana kuning menceburkan diri ke sungai. Tinggal di celana putih yang masih terdiam menatap si penunggang sepeda.
Laki-laki itu lari menjauhi sungai lalu menggapai sepeda yang ia sandarkan di pohon mangga. Ia mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Terus mengayuh tak peduli dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Terus mengayuh meski dia tidak tahu kemana. Panas terik matahari tidak menghalanginya.
Tak terasa ia tiba di sebuah bangunan besar. Bangunan itu diselimuti cat kuning gading. Atapnya merah sangat kontras dengan birunya langit. Di sekelilingnya berdiri pagar dan gerbang di depan si penunggang sepeda berdiri. Gembok besar menggenggam rantai yang mengikat kedua daun pintu gerbang.
Laki-laki itu memegang gembok itu. Ia merasa tadi pagi gerbang terbuka. Ini adalah bangunan sekolah tempat Amel mencari ilmu. Itu adalah sekolah impian Amel sejak SMP.
"Aku ingin sekolah di sana" begitu katanya ketika masih kecil dulu.
Laki-laki itu menarik-narik rantai. Ia berteriak memanggil nama putrinya yang ia antar tadi pagi. Ia tidak mendengar jawaban. Sekarang masih jam 11. Mungkin Amel masih mengikuti pelajaran di kelas. Tapi kenapa gerbangnya dikunci?
Orang-orang di sekitar sekolah merasa terganggu mendengar jeritan si penunggang sepeda. Mereka memandangi si penunggang sepeda dengan tatapan tajam.
Merasa malu laki-laki itu menghentikan teriakannya. Ternyata teriak membuat tenggorokannya makin kering. Ia mengambil botol Hello Kitty. Ia sadar ia telah menghabiskan sisa air di botolnya tadi.
Laki-laki itu mengambil sepedanya lalu mengayuhnya kembali. Kali ini ia tau tujuannya. Rumah.
Sesampainya di rumah laki-laki itu membanting sepedanya di halaman. Lalu berjalan mendekati pintu. Perlahan ia memutar gagang pintu.
Amel duduk menangis tersedu di ruang tamu. Di sampingnya ibu duduk menghapus air matanya. Tiba-tiba bapak datang membuka pintu.
"Ada apa?" Kata bapak. Ia betul-betul kebingungan. Ia menaruh tas dan kunci mobilnya di meja. Ia masih mengenakan pakaian rapi lengkap dengan dasi. Ia baru pulang dari kantor.
"Kenapa kalian menangis?"
Bapak duduk di samping Amel. Tangisan mereka makin terisak. Tidak ada jawaban. Lalu bapak tanya kembali. Ia mengulang pertanyaannya lima kali.
Satu jawaban keluar dari mulut Amel.
"Aku hamil"
Itu bukan jawaban yang bapak inginkan. Itu jawaban yang membuat bapak marah. Jawaban yang membuatnya berdiri menendang kursi.
Ia tak percaya bunga kesayangan yang ia tanam dan ia jaga kini hancur dimakan burung. Burung sialan.
"Katakan! Burung siapa yang lancang memakan kesucianmu?" Bapak teriak.
Amel tidak menjawab. Ia meneruskan tangisnya.
"Katakan siapa" bapak berteriak.
Dengan menahan tangisnya Amel menjawab. "Frenky."
"Kamu saya didik dari kecil supaya jadi orang baik. Sekarang lihat dirimu. Lihat apa yang kamu berikan ke bapak. Bikin malu!"
Tangis Amel makin menjadi. Ibu berusaha menenangkan Amel meski dirinya juga larut dalam tangis.
Bapak terus marah mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Ia tak peduli didengar tetangga.
"Bapak tidak mau punya anak seperti kamu! Sebaiknya kamu pergi! Cepat pergi!"
Ibu menangis mendengar bapak berkata seperti itu. "Bapa... Sabar, Pak!" Kata ibu menenangkan suaminya.
"Sabar, sabar. Sebaiknya kamu juga pergi. Urus saja anakmu sendiri!"
Perlahan ibu berdiri lalu mengajak Amel keluar. Ia mengambil kunci di meja tanpa sepengetahuan bapak.
Ketika mereka keluar, bapak langsung membanting pintu hingga tertutup. Wajah bapak merah dan berkeringat seperti tomat matang yang dibasahi embun. Ia masih marah. Ia mencoba untuk mengatur napas. Tak lama kemudian ia mendengar suara mobil. Suara itu makin menjauh.
Ia mencoba menenangkan dirinya dengan air hangat di kamar mandi. Tapi tidak berhasil. Lalu ia mencoba menikmati televisi. Masih gagal. Ia mencari sesuatu membuat lemari menjadi berantakan. Ia menemukan satu bungkus rokok. Ia menyimpan rokok itu dari tahun lalu ketika ia memutuskan untuk berhenti merokok.
Ia mencari korek ke mana-mana tapi ia tidak menemukannya. Ia pergi ke dapur dan menyalakan kompor gas. Hisapan pertama setelah satu tahun tidak merokok membuat bapak terbatuk-batuk. Ia menangis mengingat putrinya.
Malam sudah hampir menjadi pagi. Tapi bapak masih belum bisa tidur. Ia memikirkan cara untuk bisa tidur. Mungkin masturbasi bisa membantu. Lalu ia mengingat burung Frenky telah merusak bunga kesayangannya. Ia membatalkan niatnya.
Bapak tidak tidur sama sekali. Ia kembali mandi air hangat di pagi hari. Lalu keluar rumah. Ia melihat beberapa tetangga menatapnya.
Sebuah sepeda tergeletak di halaman. Di sana terpasang botol mining bergambar Hello Kitty. Ia langsung mengambil sepeda itu lalu mengayuhnya. Tujuan utamanya adalah rumah Frenky.
Bapak tidak tau Frenky itu siapa. Apalagi rumahnya. Ia hanya bersepeda tak tau arah.
Karena kelelahan ia berhenti di pinggir jalan. Ia bersandar di pohon mangga lalu meminum air dari botol Hello Kitty. Ia menyadari ada suara gemericik air sungai.
Keempat bocah itu saling menatap wajah teman-temannya. Lalu si celana putih berkata "Kami sedang libur semester. Sekolah sedang tutup."
Mendengar kalimat yang keluar dari si celana putih, laki-laki itu terkejut. Ia mengerutkan kening dan memudar senyumnya lalu berkata "Tidak mungkin. Tadi saya mengantarkan anak saya sekolah"
Kumpulan bocah itu hanya terdiam. Si celana merah melanjutkan aktifitas berenang. Lalu dilanjutkan dengan si celana biru. Lalu si celana kuning menceburkan diri ke sungai. Tinggal di celana putih yang masih terdiam menatap si penunggang sepeda.
Laki-laki itu lari menjauhi sungai lalu menggapai sepeda yang ia sandarkan di pohon mangga. Ia mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Terus mengayuh tak peduli dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Terus mengayuh meski dia tidak tahu kemana. Panas terik matahari tidak menghalanginya.
Tak terasa ia tiba di sebuah bangunan besar. Bangunan itu diselimuti cat kuning gading. Atapnya merah sangat kontras dengan birunya langit. Di sekelilingnya berdiri pagar dan gerbang di depan si penunggang sepeda berdiri. Gembok besar menggenggam rantai yang mengikat kedua daun pintu gerbang.
Laki-laki itu memegang gembok itu. Ia merasa tadi pagi gerbang terbuka. Ini adalah bangunan sekolah tempat Amel mencari ilmu. Itu adalah sekolah impian Amel sejak SMP.
"Aku ingin sekolah di sana" begitu katanya ketika masih kecil dulu.
Laki-laki itu menarik-narik rantai. Ia berteriak memanggil nama putrinya yang ia antar tadi pagi. Ia tidak mendengar jawaban. Sekarang masih jam 11. Mungkin Amel masih mengikuti pelajaran di kelas. Tapi kenapa gerbangnya dikunci?
Orang-orang di sekitar sekolah merasa terganggu mendengar jeritan si penunggang sepeda. Mereka memandangi si penunggang sepeda dengan tatapan tajam.
Merasa malu laki-laki itu menghentikan teriakannya. Ternyata teriak membuat tenggorokannya makin kering. Ia mengambil botol Hello Kitty. Ia sadar ia telah menghabiskan sisa air di botolnya tadi.
Laki-laki itu mengambil sepedanya lalu mengayuhnya kembali. Kali ini ia tau tujuannya. Rumah.
Sesampainya di rumah laki-laki itu membanting sepedanya di halaman. Lalu berjalan mendekati pintu. Perlahan ia memutar gagang pintu.
Amel duduk menangis tersedu di ruang tamu. Di sampingnya ibu duduk menghapus air matanya. Tiba-tiba bapak datang membuka pintu.
"Ada apa?" Kata bapak. Ia betul-betul kebingungan. Ia menaruh tas dan kunci mobilnya di meja. Ia masih mengenakan pakaian rapi lengkap dengan dasi. Ia baru pulang dari kantor.
"Kenapa kalian menangis?"
Bapak duduk di samping Amel. Tangisan mereka makin terisak. Tidak ada jawaban. Lalu bapak tanya kembali. Ia mengulang pertanyaannya lima kali.
Satu jawaban keluar dari mulut Amel.
"Aku hamil"
Itu bukan jawaban yang bapak inginkan. Itu jawaban yang membuat bapak marah. Jawaban yang membuatnya berdiri menendang kursi.
Ia tak percaya bunga kesayangan yang ia tanam dan ia jaga kini hancur dimakan burung. Burung sialan.
"Katakan! Burung siapa yang lancang memakan kesucianmu?" Bapak teriak.
Amel tidak menjawab. Ia meneruskan tangisnya.
"Katakan siapa" bapak berteriak.
Dengan menahan tangisnya Amel menjawab. "Frenky."
"Kamu saya didik dari kecil supaya jadi orang baik. Sekarang lihat dirimu. Lihat apa yang kamu berikan ke bapak. Bikin malu!"
Tangis Amel makin menjadi. Ibu berusaha menenangkan Amel meski dirinya juga larut dalam tangis.
Bapak terus marah mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Ia tak peduli didengar tetangga.
"Bapak tidak mau punya anak seperti kamu! Sebaiknya kamu pergi! Cepat pergi!"
Ibu menangis mendengar bapak berkata seperti itu. "Bapa... Sabar, Pak!" Kata ibu menenangkan suaminya.
"Sabar, sabar. Sebaiknya kamu juga pergi. Urus saja anakmu sendiri!"
Perlahan ibu berdiri lalu mengajak Amel keluar. Ia mengambil kunci di meja tanpa sepengetahuan bapak.
Ketika mereka keluar, bapak langsung membanting pintu hingga tertutup. Wajah bapak merah dan berkeringat seperti tomat matang yang dibasahi embun. Ia masih marah. Ia mencoba untuk mengatur napas. Tak lama kemudian ia mendengar suara mobil. Suara itu makin menjauh.
Ia mencoba menenangkan dirinya dengan air hangat di kamar mandi. Tapi tidak berhasil. Lalu ia mencoba menikmati televisi. Masih gagal. Ia mencari sesuatu membuat lemari menjadi berantakan. Ia menemukan satu bungkus rokok. Ia menyimpan rokok itu dari tahun lalu ketika ia memutuskan untuk berhenti merokok.
Ia mencari korek ke mana-mana tapi ia tidak menemukannya. Ia pergi ke dapur dan menyalakan kompor gas. Hisapan pertama setelah satu tahun tidak merokok membuat bapak terbatuk-batuk. Ia menangis mengingat putrinya.
Malam sudah hampir menjadi pagi. Tapi bapak masih belum bisa tidur. Ia memikirkan cara untuk bisa tidur. Mungkin masturbasi bisa membantu. Lalu ia mengingat burung Frenky telah merusak bunga kesayangannya. Ia membatalkan niatnya.
Bapak tidak tidur sama sekali. Ia kembali mandi air hangat di pagi hari. Lalu keluar rumah. Ia melihat beberapa tetangga menatapnya.
Sebuah sepeda tergeletak di halaman. Di sana terpasang botol mining bergambar Hello Kitty. Ia langsung mengambil sepeda itu lalu mengayuhnya. Tujuan utamanya adalah rumah Frenky.
Bapak tidak tau Frenky itu siapa. Apalagi rumahnya. Ia hanya bersepeda tak tau arah.
Karena kelelahan ia berhenti di pinggir jalan. Ia bersandar di pohon mangga lalu meminum air dari botol Hello Kitty. Ia menyadari ada suara gemericik air sungai.

Komentar
Posting Komentar