Tarji dan Makan Malamnya
Acara selamatan sudah selesai. Orang-orang bubar lalu dengan sabar mereka keluar dari rumah dan memasang sandal-sandal yang tergeletak di depan pintu ke kaki mereka. Kantong keresek putih besar tergantung di tangan-tangan mereka. Tarji sengaja tidak terburu-buru untuk pulang. Ia menunggu orang-orang untuk pergi. Ia berharap, Danu, si tuan rumah mengajaknya berbicara tentang rencananya. Rencana untuk membawa Tarji bekerja di Sumatra. Di sana ia mengurus peternakan sapi. Danu sudah menjanjikan pekerjaan itu minggu lalu. Jika rencananya itu terwujud, ia tidak perlu bangun jam 3 setiap pagi untuk menyiapkan pentol dagangannya.
Semua sudah
keluar. Namun Danu belum juga datang menghampiri Tarji. Akhirnya Tarji
memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan tetangga-tetangganya itu untuk
pulang bersama.
Tarji berjalan
bersama tetangga-tetangganya menuju rumah masing-masing. Rumah Tarji
bersembunyi di gang kecil. Itu yang membuatnya berpisah dengan
tetangga-tetangganya itu. Tinggal dua menit lagi ia sampai rumah.
Dalam
perjalanannya, Tarji memikirkan apa yang ada di kantong keresek yang ia bawa
itu. Itu membuatnya sangat penasaran. Ia menghentikan langkahnya. Diletakkan
bungkusan besar itu di tanah. Dibuka penutup dengan perlahan. Ia menemukan
banyak makanan. Sambal goreng dengan serundeng, ayam bumbu merah dengan mi
putih, serta telur rebus utuh berdiri di tengahnya. Tak lupa tersaji sepotong
daging rendang. Itu kesukaan Tarji. Ia sangat mendambakan daging rendang itu.
Daging adalah makanan mewah baginya. Cuma setahun sekali daging itu hadir di
piringnya. Namun hari raya kemarin ia tidak bisa menikmati daging rendang
kesukaannya. Ririn, anaknya yang pertamanya menginginkan daging kurban itu
menjadi bakso. Sebagai bapak yang baik, Tarji harus mengalah pada anak
kesayangannya itu. Dan sebagai bapak yang baik pula, ia harus memberikan
seluruh makanan hasil selamatan yang ia bawa pulang kepada ketiga anaknya. Ia
selalu melakukan itu. Ia percaya tetangga-tetangganya juga melakukannya.
Namun, jika itu ia
lakukan, ia akan kehilangan kesempatan buat mencicipi nikmatnya rendang itu.
“Cuma mencicipi.
Tidak ada salahnya.” Begitu pikirnya dalam hati.
Ia raih potongan
daging rendang itu dengan tangan kosong. Ia gigit sedikit daging itu di ujung
giginya. Dipejamkan matanya. Secuil daging itu berhasil membuat pikiran Tarji melayang.
“Tidak lengkap
rasanya kalau tidak ada nasi.” Begitu pikirnya dalam hati.
Tarji menemukan
ada nasi di bawah kumpulan lauk itu. Itu adalah nasi kuning. Ia mengambil nasi
itu dengan tangannya lalu mengunyahnya bersama daging rendang.
“Nikmat sekali.”
Begitu pikirnya dalam hati.
Tak sadar Tarji
telah menghabiskan satu potong daging rendang. Dan ia juga sadar hanya ada
satu. Rasa sesal membasahi tubuhnya. Makanan itu menjadi berantakan akibat ulah
Tarji tadi.
Apa kata Diyah
ketika Tarji sampai di rumah. Ia pasti mengeluarkan cerewetnya di depan
anak-anak. Itu pasti akan membuat Tarji malu. Ia tak mau itu terjadi. Ia
mencari akal buat menyembunyikan perbuatannya. Ia berusaha merapikan bungkusan
itu. Ia meratakan nasi di bawah, lalu meletakkan ayam di tempat rendang tadi.
Tak sengaja ia menjatuhkan telur di tengah. Itu membuatnya menggelinding di
tanah. Ketika Tarji mengambilnya, ia menemukan telur itu telah retak.
“Cuma sedikit
retaknya.” Begitu pikirnya dalam hati.
Tak sadar
tangannya yang kotor oleh bumbu rendang itu telah mengotori sarungnya. Kebetulan
ia mengenakan sarung berwarna putih. Tanpa berpikir panjang, ia langsung
berusaha membersihkan noda itu dengan tangannya. Bukannya bersih, itu malah
membuatnya menjadi rata. Noda itu membuatnya kebingungan. Bagaimana jadinya
kalau Diyah melihat noda itu di sarungnya. Ia pasti menghujani Tarji dengan
cercaan pertanyaan. Tarji tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak menemukan alibi
yang bagus dan meyakinkan. Tapi ia punya akal. Ia membawa keresek makanan itu
dan bersembunyi di semak-semak. Ia melepas sarungnya. Lalu ia kenakan kembali
dengan terbalik. Kini nodanya berada di belakang bagian bawah. Di situ ia
menyembunyikannya.
Di dalam
bungkusan masih tersisa nasi kuning, ayam, telur, mi, sambal, serundeng, dan
sambal goreng, serta beberapa jajanan pasar. Tarji berharap anak-anaknya tidak
curiga.
Tarji memegang
gagang pintu rumahnya dengan gemetar. Jangan sampai mereka memperhatikan bagian
belakang sarungnya. Jangan sampai mereka memperhatikan volume nasinya. Jangan sampai
mereka memperhatikan tata letaknya. Jangan sampai mereka curiga.
Kedatangannya disambut
oleh keluarganya. Anaknya tampak gembira ketika Tarji menaruh bungkusan itu di
meja.
“Aku ambil sendok
dulu” begitu kata salah satu anaknya.
Tarji berusaha untuk
tidak memunggungi keluarganya. Ia tidak mau mereka menanyakan noda di
sarungnya.
Diyah tidak
berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum menyaksikan anaknya makan enak. Kemudian ia
melanjutkan menonton TV. Sikap istrinya ini justru membuat Tarji makin gemetar.
Tarji harus
segera menyembunyikan sarungnya di tempat baju kotor. Kemudian ia menemani
istrinya menonton TV. Ia sadar ia harus segera tidur karena besok pagi ia harus
cepat-cepat menyuci sarungnya sebelum istrinya menemukannya.
Dalam tidurnya
Tarji bermimpi. Istrinya berubah menjadi sapi. Tarji sendiri yang menyembelih. Dia
juga yang memasaknya menjadi Rendang. Ia menikmati rendang itu dengan nasi kuning.
Di peternakan, ia menyaksikan anak-anak sapi di kandang mereka. Anak-anak sapi
itu berkeliling menciumi tanah berlumpur tanpa rumput. Tarji tahu yang mereka
cari bukan rumput. Tapi ibunya. Jadi Tarji melemparkan sepotong daging rendang
ke kandang.
Tarji dibangunkan
adzan masjid. Artinya ia bangun kesiangan. Ia tak sempat mencuci sarungnya. Ia tidak
melihat keberadaan Diyah di samping ranjangnya. Ia pergi ke dapur. Diyah sudah
di sana.
“Aku mau bilang
sesuatu ke kamu.” Diyah berkata.
“Apa?” Tarji
masih mengantuk.
“Sebaiknya kamu nggak
ikut pak Danu ke Sumatra. Aku punya firasat buruk tentang pak Danu. Aku nggak
yakin dia punya niat baik sama kita.” Begitu penjelasan Diyah pada suaminya.
“Ngawur kamu. Kenapa?
Firasat apa?”
“Telur di bungkusan
pak Danu kemarin retak. Itu pasti pertanda buruk.” Kata Diyah. Itu membuat
jantung Tarji makin berdebar.
“Ngawur. Sejak kapan
kamu percaya hal-hal seperti itu?”
“Pokoknya jangan
ke Sumatra!”
“Dengar, aku bisa
bikin banyak uang di sana. Jauh lebih banyak dari jualan pentol. Sangat cukup
buat sekolah anak-anak kita. Tidak perlu lagi bangun jam 3 pagi. Tidak perlu
lagi keliling. Tidak perlu.”
Diyah terdiam mendengarkan
suaminya itu. Tidak seperti biasanya.
“Aku sudah
mencuci tadi. Ada apa dengan sarungmu?”


Komentar
Posting Komentar