Tempat yang Menyeramkan Part 3

Baca part 1
Baca part 2
Hari itu seseorang menyatakan cintanya padaku. Di hari yang sama, aku menolaknya. Dia menembakku di depan kelas. Di depan banyak orang. Akan sangat memalukan sekali jika aku menerimanya. Apalagi dia juga laki-laki. Di sisi lain, aku masih memiliki seorang kekasih yang bernama Putri.
Masa Orientasi Siswa sudah selesai. Aku berusaha menjauh dari Tony. Aku tidak mau teman-temanku mengejek setelah kejadian memalukan itu. Semua berjalan lancar. Tidak ada yang menyinggung masalah itu lagi. Aku dan dia duduk berjauhan. Satu semester berjalan begitu cepat. Akhirnya libur tiba.
Aku bosan menghabiskan liburanku di rumah. Mungkin sebaiknya aku keluar mencari udara segar. Sedikit jalan-jalan akan membuatku lebih bahagia. Aku tidak punya banyak teman. Putri, kekasihku sedang berlibur ke luar kota. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke luar sendiri. Aku akan pergi ke bioskop untuk menonton film favoritku. Film action.
Semuanya sudah siap. Aku membuka pintu untuk keluar rumah. Tiba-tiba datang bocah cilik memelukku. Sebenarnya dia cuma memeluk kakiku. Namanya Alif. Dia adalah sepupuku. Dia berkunjung ke rumahku bersama ibunya.
“Kak Dimas, aku mau jajan” aku tak percaya. Bocah sekecil ini sudah bisa bicara.
Ibunya memberiku uang lima ribu. “Kamu antar Alif beli jajan ya”
“Tapi aku mau pergi”
“Sebentar kok. Di sana ada toko yang masih buka”
Dengan terpaksa aku menaruh tasku di meja lalu menemaninya beli jajan. Jalan kaki jauh sekali. Di tengah perjalanan ia terus mengoceh. Ia membicarakan nasib Udin, kelincinya yang mati dimakan kucing. Ia percaya kelincinya masuk surga.
“Kamu sudah sekolah?” tanyaku.
“Belum. Ibuku bilang sekolah itu menyenangkan”
“Sekolah bisa jadi menyenangkan jika kamu punya banyak teman”
“Udin adalah teman baikku”
“Kita sudah sampai” kataku.
Aku masuk ke sebuah toko. Alif langsung menuju ke tempat jajan yang ia inginkan. Ia mengambil sebungkus permen gummy bears. Aku agak kaget melihat harganya 7000. Ibu Alif cuma memberiku 5000. Dompetku tertinggal di tas.
“Jangan yang itu. Yang lebih kecil aja”
“Aku maunya yang ini”
Ya ampun. Dia menyebalkan sekali.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang dari belakang. Ia berkata “Kamu ambil saja”
Saat aku menoleh ke belakang, di sana aku melihat Tony. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Ia tersenyum ke arahku lalu menjawab “Aku tinggal di sini”
Sudah lama aku mengenalnya tapi aku baru tahu rumahnya. Ternyata tidak jauh dengan rumahku. Suatu kebetulan bisa menjumpainya di sini.
“Aku cuma bawa ini” Aku memberikan uang lima ribuku. “Besok aku lunasi”
Ia menerima uangku “Gapapa. Ini sudah cukup”
Ini adalah pertemuan yang canggung. Aku terdiam untuk sesaat sampai dia memulai percakapan. “Bagaimana liburanmu?”
“Membosankan. Aku hanya di rumah”
“Aku juga”
“Tapi malam ini aku mau nonton”
“Film superhero itu ya?”
“Iya. Katanya sih bagus. Aku jadi penasaran”
“Aku juga belum nonton”
“Jika kamu tidak sibuk, kita bisa nonton bareng. Di rumahku ada motor”
“Ide bagus. Itu pasti menyenangkan. Aku ganti baju sebentar”
Tony masuk ke rumahnya. Aku menunggu di toko bersama Ali. Sepertinya Ali tak sabar ingin memakan permennya. Ia berusaha membuka bungkus permen itu.
Tak lama kemudian, Tony datang. “Ayo kita berangkat”
Aku berjalan bertiga. Ali berada di tengah. Seolah seperti sebuah keluarga yang baru punya anak.
Sesampainya di rumah, Ali langsung menghampiri ibunya. Kuambil tasku lalu kudorong motorku keluar.
“Aku saja yang di depan” Kata Tony.
Udara malam ini sangat dingin. Kurasa jaketku tidak cukup tebal untuk menghangatkan tubuhku. Rasanya seperti aku ingin memeluk Tony dari belakang. Tapi aku tidak mau melakukannya.
Bioskop ramai sekali. Antrean malam ini panjang sekali. Seperti antrean sembako. Mungkin ini karena masyarakat sangat antusias dengan filmnya. Kuharap filmnya bagus. Kuharap aku tidak kehabisan tiket. Tapi sayangnya itu yang terjadi. Kita punya dua pilihan. Beli tiket film horor, atau pulang dengan tangan hampa. “Enaknya gimana?” tanya Tony padaku.
“Sebaiknya kita nonton besok aja”
“Jadi, kamu gak berani nonton film horror?”
Malu rasanya bila mengaku aku takut film horror. Tapi aku sangat ingin menyaksikan film action itu. “Aku tidak takut” Aku tidak tahu kenapa aku bilang begitu. Sekarang aku takut Tony mengajakku nonton film horror.
“Kalau begitu, kita pilih film horror. Aku juga penasaran dengan film ini” Dengan senang hati, Tony membayar tiketnya.
Ilmuan mengatakan, menonton film horor dapat meningkatkan aktifitas otak, membakar kalori, dan meningkatkan adrenalin. Film horor adalah genre film yang banyak dipilih pasangan kekasih karena saat ketakutan, perempuan cenderung suka dipeluk. Di sisi lain, film horor juga memberikan mimpi buruk. Dan itu yang membuatku trauma. Saat aku masih kecil, pamanku mengajakku menonton film di rumahnya. Awalnya aku berfikir itu adalah film religi karena aku mendengar suara adzan di awal film. Lalu aku sadar itu adalah film horor. Film horor terseram yang pernah ada. Judulnya adalah The Exorcist. Film yang membawaku pada mimpi buruk. Film yang membuatku tak berani tidur sendiri. Menakutkan sekali.
“Kurasa film ini akan membosankan” Aku memberi bujukan agar Tony mengundurkan niatnya untuk menonton film horor.
“Jangan bilang kamu akan takut”
“Tidak. Aku tidak takut”
“Kalau gitu, kita akan menontonnya”
Sebentar lagi film diputar. Aku dan Tony duduk menunggu. Tony terlihat sangat semangat. Wajahnya memancarkan aura penuh keyakinan. Sangat bertolak belakang dengan kondisiku. Tangaku gemetar memegangi lututku. Pandanganku tak terarah.
Di depan sana terpasang poster film itu. Gelap dan menyeramkan. Sebaiknya aku tidak memperhatikannya. Tak lama kemudian terdengar suara pemberitahuan bahwa film akan segera dimulai. Suara itu membuatku makin takut. Mengingatkanku pada saat aku duduk di ruang tunggu ketika mau sunat. Sama takutnya.
“Ayo...” Tony mengajakku untuk segera berdiri. Kami masuk ke ruang bioskop yang suram. Lampunya masih menyala tapi aku masih merasakan aura-aura gelap. Tony memeriksa tiketnya untuk mencari tempat duduk. “Di sana...” Ia menemukannya.
Aku duduk dengan Tony di samping kananku. Ia tampak semangat sekali. Tak terlihat sedikit pun kecemasan di wajahnya. Gemetar di tanganku semakin menjadi-jadi. Detak jantungku semakin mendebar. Aku harus berani. Aku tidak mau pingsan di sini. Atau mati ketakutan. Aku harus terlihat berani di depan Tony. Jangan sampai film ini mempermalukanku di depannya. Pasti memalukan jika teman-teman tahu aku pingsan hanya gara-gara sebuah film horror.
Semua sudah duduk di kursi masing-masing. Lampu dimatikan mulai dari depan, dilanjutkan dengan lampu di belakangnya. Kini semua lampu telah mati. Gelap sekali. Yang terlihat hanya layar di depan. Tidak ada gambar di sana. Hanya warna gelap.
Tiba-tiba muncul suara yang mengejutkan. Layar di depan muncul gambar-gambar. Ternyata itu cuma trailer dan iklan. Kemunculan ini cukup untuk mengagetkanku.
Film akhirnya dimulai. Semua tampak normal. Sampai ketika di tengah film. Apakah ada hantu di sana. Aku mulai ketakutan. Kapan hantu itu muncul. Itu membuatku penasaran sekaligus takut. Tiba-tiba sesosok hantu menakutkan muncul di layar dengan suara yang mengejutkan. Tak terasa selama ini tanganku memegang erat lengan Tony. Seketika aku melepaskannya. Kulihat Tony membiarkannya. Sepertinya ia tak sadar dengan apa yang telah kulakukan.
Bersambung

Komentar

Postingan Populer